Wednesday, April 11, 2012

Khaulah Binti Tsa’labah (Wanita Yang Aduannya Didengar Allah Dari Langit ketujuh)

Khaulah Binti Tsa’labah
(Wanita Yang Aduannya Didengar Allah Dari Langit Ketujuh)




Khaulah Binti Tsa’labah (Wanita Yang Aduannya Didengar Allah Dari Langit ketujuh)

Beliau adalah Khaulah binti Tsa`labah bin Ashram bin Fahar bin Tsa`labah Ghanam bin ‘Auf. Beliau tumbuh sebagai wanita yang fasih dan pandai. Beliau dinikahi oleh Aus bin Shamit bin Qais, saudara dari Ubadah bin Shamit r.a yang mana beliau menyertai perang Badar dan perang Uhud dan mengikuti seluruh perperangan yang disertai Rasulullah saw. Dengan Aus inilah beliau melahirkan anak lelaki yang bernama Rabi`.
Pada suatu hari, Khaulah binti Tsa`labah melihat suaminya Aus bin Shamit di dalam keadaan bermasalah yang membuat Aus marah, dia berkata, “Bagiku engkau ini seperti punggung ibuku.” Kemudian Aus keluar setelah menyebutkan perkataan tersebut dan duduk bersama orang-orang beberapa lama lalu dia masuk dan ingin melakukan hubungan seksual bersama isterinya, Khaulah. Akan tetapi, oleh kerana kesedaran hati dan kehalusan perasaan, maka Khaulah menolak untuk bersama suaminya sehingga hingga jelas hukum Allah terhadap kejadian yang baru pertama kali terjadi di dalam sejarah Islam. Khaulah berkata, “Tidak…jangan! Demi yang jiwa Khaulah berada di tangan-Nya, engkau tidak boleh menjamahku kerana engkau telah mengatakan sesuatu yang telah engkau ucapkankan terhadapku sehingga Allah dan Rasul-Nya lah yang memutuskan hukum tentang peristiwa yang menimpa kita.”
Kemudian Khaulah keluar menemui Rasulullah saw, lalu dia duduk di hadapan beliau dan menceritakan peristiwa yang menimpa di antara dirinya dan suaminya. Khaulah berkeinginan untuk meminta fatwa dan berdialog dengan nabi tentang urusan tersebut. Rasulullah saw bersabda, “Kami belum pernah mendapatkan perintah berkenaan urusanmu tersebut… aku tidak melihat melainkan engkau sudah haram baginya.”
Wanita mukminah ini mengulangi perkatannya dan menjelaskan kepada Rasulullah saw apa yang akan menimpa dirinya dan anaknya jika dia wajib bercerai dengan suaminya, namun rasulullah saw tetap menjawab, “Aku tidak melihat melainkan engkau telah haram baginya”.

Sesudah itu wanita mukminah ini senantiasa mengangkat kedua tangannya ke langit sedangkan di hatinya tersimpan kesedihan dan kesusahan. Kedua matanya asyik menitiskan air mata dan semacam ada penyesalan, maka beliau menghadap kepada Yang tidak akan rugi sesiapapun yang berdoa kepada-Nya. Beliau berdo’a, “Ya Allah sesungguhnya aku mengadu kepada-Mu tentang peristiwa yang menimpa diriku”.
Alangkah bagusnya seorang wanita mukminah seperti Khaulah, beliau berdiri di hadapan Rasulullah saw dan berdialog untuk meminta fatwa, adapun istighatsah (meminta pertolongan) dan mengadu tidak ditujukan melainkan kepada Allah Ta`ala. Ini adalah bukti kejernihan iman dan tauhidnya yang telah dipelajari oleh para sahabat daripada Rasulullah saw.

Tiada henti-hentinya wanita ini berdo`a sehingga suatu ketika Rasulullah saw pengsan sebagaimana kebiasaannya beliau akan pengsan tatkala menerima wahyu. Kemudian setelah Rasulullah saw sedar kembali, beliau bersabda, “Wahai Khaulah, sungguh Allah telah menurunkan al-Qur`an tentang dirimu dan suamimu kemudian beliau membaca firman-Nya (ertinya),

1. Sesungguhnya Allah telah mendengar (dan memperkenan) aduan perempuan Yang bersoal jawab denganmu (Wahai Muhammad) mengenai suaminya, sambil ia berdoa merayu kepada Allah (mengenai perkara Yang menyusahkannya), sedang Allah sedia mendengar perbincangan kamu berdua. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar, lagi Maha Melihat.
2. Orang-orang Yang “ziharkan” isterinya dari kalangan kamu (adalah orang-orang Yang bersalah, kerana) isteri-isteri mereka bukanlah ibu-ibu mereka. ibu-ibu mereka tidak lain hanyalah perempuan-perempuan Yang melahirkan mereka. dan Sesungguhnya mereka (dengan melakukan Yang demikian) memperkatakan suatu perkara Yang mungkar dan dusta. dan (ingatlah), Sesungguhnya Allah Maha Pemaaf, lagi Maha Pengampun.
3. Dan orang-orang Yang “ziharkan” isterinya, kemudian mereka berbalik dari apa Yang mereka ucapkan (bahawa isterinya itu haram kepadaNya), maka hendaklah (suami itu) memerdekakan seorang hamba sebelum mereka berdua (suami isteri) bercampur. Dengan hukum Yang demikian, kamu diberi pengajaran (supaya jangan mendekati perkara Yang mungkar itu). dan (ingatlah), Allah Maha mendalam pengetahuannya akan apa Yang kamu lakukan.
4. Kemudian, sesiapa Yang tidak dapat (memerdekakan hamba), maka hendaklah ia berpuasa dua bulan berturut-turut sebelum mereka (suami isteri) itu bercampur. akhirnya sesiapa Yang tidak sanggup berpuasa, maka hendaklah ia memberi makan enam puluh orang miskin. ditetapkan hukum itu untuk membuktikan iman kamu kepada Allah dan RasulNya (dengan mematuhi perintahNya serta menjauhi adat Jahiliyah). dan itulah batas-batas hukum Allah; dan bagi orang-orang Yang kafir disediakan azab seksa Yang tidak terperi sakitnya. (al-Mujadalah:1-4)

Kemudian Rasulullah saw menjelaskan kepada Khaulah tentang kafarat (tebusan)Zhihar:
Nabi : Perintahkan kepadanya (suami Khansa`) untuk memerdekan seorang hamba.

Khaulah : Ya Rasulullah dia tidak memiliki seorang hamba yang boleh dia bebaskan.
Nabi : Jika demikian perintahkan kepadanya untuk puasa dua bulan berturut-turut
Khaulah : Demi Allah dia adalah lelaki yang tidak mampu melakukan puasa.
Nabi : Perintahkan kepadanya memberi makan dari kurma sebanyak 60 orang miskin
Khaulah : Demi Allah ya Rasulullah dia tidak memilikinya.
Nabi : Aku bantu dengan separuhnya
Khaulah : Aku bantu separuhnya yang lain wahai Rasulullah.
Nabi : Engkau benar dan baik maka pergilah dan sedekahkanlah kurma itu sebagai kafarat baginya, kemudian bergaulah dengan anak pakcikmu itu secara baik.” Maka Khaulah pun melaksanakannya.

Inilah kisah seorang wanita yang mengajukan gugatan kepada pemimpin anak Adam a.s yang mengandungi banyak pelajaran di dalamnya dan menunjukkan ketinggian wanita beriman dan keberanian mereka bagi mendapatkan hak mereka.

Ummul mukminin Aisyah ra berkata tentang hal ini, “Segala puji bagi Allah yang Maha luas pendengaran-Nya terhadap semua suara, telah datang seorang wanita yang mengajukan soalan kepada Rasulullah saw, dia berbincang-bincang dengan Rasulullah saw sementara aku berada di samping rumah dan tidak mendengar apa yang dia katakan, maka kemudian Allah Azza wa Jalla menurunkan ayat, “Sesungguhnya Allah telah mendengar (dan memperkenan) aduan perempuan Yang bersoal jawab denganmu (Wahai Muhammad)…” (Al-Mujadalah: 1)


Khaulah berani menasihati Khalifah Umar


Inilah wanita mukminah yang dididik oleh Islam yang menghentikan Khalifah Umar bin Khaththab r.a saat berjalan untuk memberikan nasihat kepadanya. Beliau berkata, “Wahai Umar! aku telah mengenalimu sejak namamu dahulu masih Umair (Umar kecil) tatkala engkau berada di pasar Ukazh engkau mengembala kambing dengan tongkatmu, kemudian berlalulah hari demi hari sehingga memiliki nama Amirul Mukminin, maka bertakwalah kepada Allah perihal rakyatmu, ketahuilah barangsiapa yang takut akan seksa Allah maka yang jauh akan menjadi dekat dengannya dan barangsiapa yang takut mati maka dia akan takut kehilangan dan barangsiapa yang yakin akan adanya hisab maka dia takut terhadap Adzab Allah.” Beliau katakan hal itu sementara Umar Amirul Mukminin berdiri sambil menundukkan kepalanya dan mendengar perkataannya.

Akan tetapi al-Jarud al-Abdi yang menyertai Umar bin Khatthab tidak tahan lalu berkata kepada Khaulah, “Engkau telah bercakap banyak kepada Amirul Mukminin wahai wanita.!” Umar kemudian menegurnya, “Biarkan dia…tahukah kamu siapakah dia? Beliau adalah Khaulah yang Allah mendengarkan perkataannya dari langit yang ketujuh, maka Umar lebih berhak untuk mendengarkan perkataannya.”

Dalam riwayat lain Umar bin Khaththab berkata, “Demi Allah seandainya beliau tidak menyudahi nasihatnya kepadaku sehingga malam hari maka aku tidak akan menyudahinya sehingga beliau selesaikan apa yang dia kehendaki, kecuali jika telah masuk waktu shalat, maka aku akan mengerjakan shalat kemudian kembali mendengarkannya sehingga selesai keperluannya.”

(SUMBER: buku Mengenal Shahabiah Nabi SAW., karya Mahmud Mahdi al-Istanbuly dan Musthafa Abu an-Nashar asy-Syalaby, h.242-246, penerbit AT-TIBYAN)

Monday, April 2, 2012

khaulah Al Aswar

Duhai engkau sang pejuang

Laksana mawar di tengah ilalang

Amarah dan kesedihan yang mendalam

Telah mengobarkan semangatmu



Kegesitanmu laksana pejuang sejati

Sepak terjangmu menyisakan kekaguman

Berbanggalah ibu yang melahirkanmu

Menjadi seorang wanita mujahid



Dikisahkan ketika Khalid bin Al-Walid mendekati medan perang dalam salah satu pertemumpuran di Ajnadin menghadapi bangsa Rowami dalam episode penaklukkan Damaskus, tiba-tiba ia melihat seorang prajurit penunggang kuda melesat melewatinya dari belakang dan berkuda menuju pasukan Romawi. Sebelum Khalid sempat menahannya, ia telah menghilang, Bertubuh langsing dan berpakaian hitam, penunggang kuda itu mengenakan pelindung di dadanya, bersenjatakan pedang dan tombak. Khalid melihat ia mengenakan sorban hijau dan selendang yang menutupi wajahnya sebagai cadar dan hanya matanya saja yang terlihat. Khalid tiba di medan perang bersamaan dia melihat penunggang kuda itu melemparkan dirinya kedalam pasukan Romawi dengan penuh kemarahan yang membuat semua yang hadir mengira bahwa ia dan kudanya gila. Rafi – pemimpin pasukan yang waktu itu menggantikan Dhirar yang ditawan oleh tentara Romawi - melihatnya sebelum melihat kedatangan Khalid dan berkata, ”Dia menyerang seperti Khalid, tetapi jelas dia bukan Khalid.” Kemudian Khalid bergabung dengan Rafi.



Khalid langsung menggambungkan kelompok Rafi dan pasukan berkuda yang dibawanya dan menyebarkannya dalam kombinasi kekuatan untuk berperang. Sementara itu penunggang bertopeng menunjukkan aksi berkuda dan penyerangan dengan tombaknya yang mendebarkan kaum Muslimin. Dia terus maju menyerang barisan depan pasukan Romawi dan membunuh seorang prajurit, lalu dia berkuda lagi kebagian depan yang lain dan menyerang prajurit di barisan depan, dan seterusnya. Beberapa orang prajurit Romawi maju untuk menghadangnya namun berhasil dijatuhkan dengan permainan tombaknya yang dashsyat. Kagum terhadap pemandangan yang menakjubkan tersebut, pasukan Muslimin masih belum dapat melihat siapa gerangan pejuang itu, kecuali bahwa dia adalah postur seorang anak muda dan sepasang mata yang tajam bercahaya di atas cadarnya. Sang penunggang kuda tampaknya hendak bunuh diri karena dengan pakaian dan tombak yang berlumuran darah dia kembali menyerang prajurit Romawi. Keberanian sang pejuang memberikan keberanian baru bagi kelompok Rafi (yang semua hampir terkalahkan sebelum kedatangan pasukan Khalid bin al-Walid), yang melupakan kelelahan mereka dan menyerbu ke medan perang dengan semangat baru yang tinggi ketika Khalid memerintahkan untuk menyerang.



Penunggang bercadar, yang kini diikuti oleh prajurit lainnya, melanjutkan pertempurannya dengan prajurit Romawi ketika seluruh pasukan kaum Muslimin menyerbu. Segera setelah serbuan umum itu, Khalid mendekat kepada sang penunggang dan bertanya, ”Wahai pejuang, tunjukkanlah wajahmu!” Sepasang mata hitam berkilat menatap Khalid sebelum berbalik dan kembali menyerang tentara Romawi. Kemudian beberapa orang tentara Khalid menyusulnya dan berkata kepadanya. ”Wahai pejuang yang mulia, komandanmu memanggilmu dan engkau pergi darinya! Tunjukkan kepada kami wajahmu dan sebutkan namamu agar engkau dapat dihormat selayaknyai.” Sang penunggang kuda kembali berbalik pergi seolah dengan sengaja merahasiakan identitas dirinya.



Ketika sang penunggang kuda kembali dari serangannya, dia melewati Khalid, yang menyuruhnya dengan tegas untuk berhenti. Dia menarik kudanya berhenti, Khalid melanjutkan: ”Engkau telah berbuat banyak yang memenuhi hati kami dengan kekaguman. Siapakah anda?”



Khalid hampir terjatuh dari kudanya ketika dia mendengarkan jawaban dari penunggang kuda bercadar, karena yang didengarnya adalah suara seorang gadis. ”Wahai komandan, bukannya aku enggan menjawab pertanyaan anda, hanya saja aku merasa malu, sebab anda seorang pemimpin yang agung, sedangkan aku adalah gadis pingitan. Sesungguhnya tiada lain yang mendorongku untuk melakukan hal seperti itu melainkan karena hatiku terbakar dan aku sangat sedih.



Khalid dibuat kagum kepada orang tua itu, Al-Azwar, yang menjadi ayah pejaung-pejuang pemberani, laki-laki dan perempuan. ”Kalau begitu bergabunglah bersama kami.”



Itulah dia, Khaulah binti Al-Azwar, seorang gadis pemberani, yang membuat kagum pasukan Muslimin dengan sepak terjangnya menyerang tentara Romawi. Kesedihan dan kemarahan akan berita ditawannya saudaranya tercinta, Dhirar bin al-Azwar, membuatnya tampil ke medan perang sebagai pejuang, dan tidak lagi berada di barisan belakang sebagai perawat prajurit yang terluka dan mengurus perbekalan sebagaimana yang dilakukan sebelumnya bersama para wanita yang ikut dalam peperangan.

Thursday, October 14, 2010

Kebangkitan islam yang dijanjikan

Allâhu akbar!
terjemahnya: "Sesungguhnya Allah akan mengutus kepada ummat ini seorang mujaddid terhadap agamanya setiap 100 tahun." (al-Albani, sahih Sunan Abu Daud, # 4291).

Oleh itu, sejak kejatuhan khilafah pada tahun 1924. Dunia Islam sepi dan merana, gersang dengan cerita-cerita kegemilangannya. Hanya cerita-cerita duka sahaja. Namun batas waktu tersebut akan berakhir tidak lama lagi. Sehingga perkara di dunia ini pasti ada tempoh had masanya. Bak seperti pusingan roda berputar. Hanya sekitar lebih sepuluh tahun lagi penderitaan ini akan berakhir. Sekiranya kita ambil kira sejak tahun kejatuhan Islam dicampurkan dengan seratus tahun lagi kita dapat menemui jawapannya, iaitu pada tahun 2024. Pada era inilah,Era kebangkitan Islam yang menutup sejarah manusia. Manusia yang ditunggukan tentulah Imam Mahdi.

Jika tuan-tuan berfikiran yang realistik. Sekiranya Imam Mahdi memimpin umat Islam kini menggunakan sistem apa? Adakah beliau menggunapakai sistem demokrasi? sistem ekonomi kapitalisme yang bersifat menekan? Masih taatsetia dengan peraturan PBB?

Jawapannya mudah. Sudah tentu beliau menggunapakai dengan ditinggalkan oleh Rasulullah SAW. Beliau menggunapakai sistem pemerintahan Islam iaitu Sistem Khilafah, urusan ekonominya tentulah Sistem Ekonomi Islam dan tiada terikat dengan peraturan PBB. Sejajar dengan hadis Rasulullah SAW,"Akan ada khilafah yang mengikut jejak kenabian".

Oleh yang demikian, wajarkah kita mengikut sistem apa yang tersedia ada.Sistem demokrasi, Sistem Ekonomi kapitalis, PBB kita dah boleh buang kedalam bakul sampah. Walaupun, kita cakap bahawa kita hendak jadi pengikut Imam Mahdi, tapi kalau kita masih berpegang dengan peradaban Barat, sebenarnya kita menjadi penentang beliau, Allah dan Rasul (Secara tak langsung).

Hanya jemaah Islam yang ada sekarang ini cukup-cukup bersedia menerima kehadiran Imam Mahdi. Perjuangan mereka selari dengan apa yang hendak diamalkan oleh Imam Mahdi. Jemaah Islam ini menyediakan jalan kebangkitan Islam agar mudah dilalui pemimpin besar yang dijanjikan itu. Jemaah Islam yang sering melaungkan Khilafah disana-sini. Jemaah tersebut dipanggil Hizbut Tahrir.

Monday, May 17, 2010

Seruan bantahan Hizbut tahrir Malaysia tentang judi



Hizbut tahrir Malaysia telah mengadakan seruan bantahan kepada kerajaan Malaysia kerana meluluskan lesen perjudian bola sepak.

komentar penulis :Sesungguhnya judi itu haram disisi Allah SWT. Hukum manusia yang menghalalkannya dengan hanya memberikan lesen akan menempatkan mereka ke dalam neraka jahanam. Mereka yang meluluskannya bahkan mereka yang iyakan di dalam hati sekalipun walaupun tidak melibatkan diri secara langsung dalam arena perjudian mendapat ganjaran yang setimpal apa yang mereka lakukan.

Tuesday, April 6, 2010

Imam Hanafi –Pendebat Kebenaran




Imam Hanafi –Pendebat Kebenaran

Buku terbaru saya baca. Imam Hanafi dilahirkan lebih dahulu daripada imam-imam mazhab yang lain (Imam Miliki,Imam Hanbal dan Imam Syafie) Nama sebenarnya An Nukman bin Thabit lahir pada 80 Hijrah. Mendapat gelaran Abu Hanifah kerana beliau mendapat seorang anak bernama Hanifah. Ada juga mengatakan beliau suka membawa dakwat ke mana sahaja beliau pergi, digelar Hanifah bererti dakwat dalam bahasa Parsi.

Sejak kelahiran beliau, ibunya sangat berharap anaknya menjadi seorang ulama. Pada usia remajanya beliau cenderung dalam bidang perniagaan namun ibunya berusaha menarik minat beliau ke arah bidang keilmuan agama. Akhirnya beliau ke arah bidang tersebut. Beliau belajar dengan 200 ulama termasuklah beberapa sahabat Nabi SAW seperti Abdullah bin Abbas bin Abdul Muttalib dan Abdullah bin Mas’ud. Namun begitu, dalam masa yang sama beliau tidak meninggalkan bidang perniagaan. Kehidupannya senang/kaya namun cara hidupnya sederhana. Beliau banyak membantu orang ramai yang dalam kesusahan, menghalalkan hutang (10 ribu dirham) seorang sahabatnya dan pendek kata beliau juga seorang pemurah dan dermawan.

Diantara kenangan manisnya, Ketika beliau masih berguru dengan Imam Hammad di Madinah. Datanglah utusan Khalifah menjemput Imam Hammad ke Baghdad untuk berdebat dengan seorang cerdik pandai (Dahri) dari kerajaan Rom. Memandang semua ulama di Baghdad tidak mampu menjawab soalan-soalan dari Dahri tentang kewujudan tuhan, maka Imam Hammad membawa sekali imam Hanafi sebagai pengiringnya. Tiba di sana, Imam Hammad terasa gelisah mendengar khabar soalan dari Dahri yang memeningkan kepala. Akhirnya, Imam Abu Hanifah tampil menawarkan diri untuk menjawab soalan-soalan Dahri.

Dipendekkan cerita, semua soalan tersebut dengan mudah dijawab oleh Imam Abu Hanifah walaupun ketika beliau masih muda. Pulanglah Dahri ke Rom dengan malunya. Di dalam buku novel tersebut, ada beberapa lagi siri pendebatan diantara beberapa ulama-ulama.

Oleh kerana beliau hidup dalam peralihan dua zaman pemerintahan Islam iaitu zaman pemerintahan Bani Umaiyyah dan Bani Abbasiah. Bahananya terpercik ke atas diri beliau. Disebabkan pengaruh beliau amat besar kepada umat (di Kufah) Khalifah Marwan (Bani Umaiyyah) ingin melantik beliau sebagai Kadi ataupun ketua perbendaraan Kufah. Beliau menolak jawatan tersebut dengan baik, namun beliau dituduh seorang yang menyokong kebangkitan Bani Abbasiyah. Beliau menolak jawatan tersebut kerana tidak mahu bersepakat dengan orang-orang zalim. Disebabkan itulah, beliau dipenjarakan. Selama 2 minggu, namun dibebaskan kerana khalifah takut pengikut Imam Abu Hanifah dan penduduk Kufah semakin menjadi pemberontakannya.

Pada masa Khalifah Abu Jaafar al Mansur (Bani Abbasiyyah) berkuasa, ketika itu dia masih mencari pengaruh dalam umat. Dia nampak imam Hanafi mampu membawa pengaruh umat kepada Khalifah Abu Jaafar sekiranya beliau bekerja dengannya. Sekali lagi, Imam Abu Hanifah ditawarkan jawatan kadi/ ketua perbendaraan Negara. Namun beliau tetap tolak jawatan tersebut dengan alasan yang sama. Walaupun, beliau dihadiahkan dan digajikan yang tinggi, beliau tetap menolaknya. Khalifah Abu Jaafar mengarahkan Imam Abu Hanifah dipenjarakan. Di dalam penjara, beliau berkali-kali diajak menjawat jawatan tersebut, namun beliau tetap menolaknya. Sehinggalah beliau disebat setiap hari. Khalifah Abu Jaafar memanggil ibunya menziarah dan memujuk anaknya(Imam Abu Hanifah) menerima jawatan tersebut. Ibunya datang ke penjara. Dengan perasaan kesalnya melihat keadaan Imam Abu Hanifah yang terseksa di dalam penjara. Berkata ibunya “Wahai anak bonda yang dikasihi. Suatu ketika dulu bonda berasa amat bangga dan gembira kerana kamu menjadi orang yang banyak ilmu dan disanjung tinggi. Tetapi sekarang bonda berasa amat berdukacita melihat keadaanmu, kerana itu lebih elok kamu buang sahaja dan lemparkan jauh-jauh yang kamu dapati kerana tidak ada manfaatnya. Apa yang kamu dapati sekarang adalah dikurung di dalam penjara, dipukul dengan cemeti setiap hari dan rantai yang membelit tubuhmu.”

Kata pula Imam Abu Hanifah “Wahai ibuku, anakanda bersyukur dengan apa yang Allah kurniakan. Sekiranya anakanda hendakkan kemewahan dunia, tentu anakanda dapatinya. Tetapi anakanda mengutamakan keredaan Allah sertamemelihara ilmu pengetahuan yang selama ini anakanda pelihara sekiranya menuju kemurkaan Allah”

“Anakku, cuba beritahu bonda mengapa anakanda menolak jawatan itu? Bukankah itu perintah khalifah” tanya ibu Imam Abu Hanifah.

“Ibu, khalifah sekarang bukan seperti khalifah Abu Bakar, Umar, Uthman dan Ali. Sekiranya mereka mencontohi khalifah Umar Abdul Aziz pun sudah cukup membuat anakanda mahu berkhidmat denganya. Tetapi khalifah sekarang ini berlaku zalim. Lihatlah apa yang baginda lakukan pada anakanda.Demi Allah, anakanda tidak akan bersubahat dengannya” jawab Imam Abu Hanifah.

Akhirnya, beliau mati diracun oleh Khalifah Abu Jaafar. Selepas beliau pergi untuk selama-lamanya, Khalifah Abu Jaafar berasa menyesal atas perbuatannya dan sering terbayang-bayang wajah Imam Abu Hanifah dalam ingatannya.

Ulasan yang hendak saya bahaskan, buku novel ini menceritakan gaya hidup seorang ulama yang terulung. Penulis banyak mengaitkan situasi politik/siasah pada ketika itu dan disalang-silangkan nasib-nasib orang-orang yang zalim seperti Gabenor Kufah, Al Hajjaj bin Yusof At-Thaqafi. Dia seorang yang bertanggungjawab menyerang Kaabah dan membunuh Abdullah bin Zubair. Akhir hayatnya, dia ditinggalkan oleh pengikutnya dan umat kerana penyakit yang misteri.

Satu fakta yang saya ingin ulaskan setelah membaca buku novel ini, tentang hadis pemuda dari khurasan. Hadisnya berbunyi begini,”Panji hitam akan muncul dari Khurasan. Tidak ada kekuatan yang mampu menahan kemaraan mereka hingga akhirnya sampai di Palestin,di tempat itulah mereka akan mengibarkan panjinya” (HR Tirmizi).

Penulis buku novel ini mengaitkan kebangkitan Bani Abbasiyah. Kerana Bani Umaiyyah menggunakan panji berwarna putih. Puak yang dikatakan pemberontak, menggunakan panji berwarna hitam. Punca kebangkitan Bani Abbasiyah bermula di Khurasan (khurasan juga dikenali sebagai tanah matahari terbit dalam bahasa Parsi dan kawasan timur) dan kawasannya sekarang ini melewati Afghanistan, Uzbekistan, Tajikistan,Pakistan dan Xinjing dan Yunan China.

Bagi saya, mungkin ya juga. Mungkin hadis pemuda dari khurasan telah berlaku. Tapi kenapa pulak hadis ini dikaitkan dengan kehadiran Imam Mahdi. Satu lagi persoalan yang kita nanti-nanti jawaban. Hanya Allah sahaja yang tahu.

Contoh hadisnya, Dari Ibnu Masud RA, katanya, ketika kami berada di sisi Rasullulah SAW, tiba-tiba datang sekumpulan anak muda dari kalangan Bani Hasyim. Apabila terlihat mereka, maka kedua-dua mata banginda SAW dilinangi air mata dan wajah baginda berubah. Aku pun bertanya, Mengapakah kami melihat pada wajah Tuan sesuatu yang tidak kami sukai? Baginda menjawab, Kami Ahlul Bait telah Allah pilih untuk kami akhirat lebih dari dunia. Kaum kerabatku akan menerima bencana dari penyingkiran selepasku kelak sehinggalah datang suatu kaum dari Timur yang membawa bersama-sama mereka Panji-panji Hitam. Mereka meminta kebaikan tetapi tidak diberikannya, maka mereka pun berjuang dan beroleh kejayaan lalu diberikanlah apa yang mereka minta itu tetapi mereka tidak menerima sehinggalan mereka menyerahkannya kepada seorang lelaki dari kaum kerabatku yang akan memenuhkan bumi ini dengan keadilan seperti halnya bumi ini dipenuhi dengan kedurjanaan sebelumnya. Sesiapa yang sempat menemuinya, maka datangilah mereka itu, walaupun terpaksa merangkak di atas salji. Sesungguhnya dia adalah al-Mahdi.
(Ibnu Majah)

Di sisi yang lain pula, gaya kehidupan Imam Abu Hanifah seperti gaya syabab Hizbut Tahrir. Sibuk cari ilmu. Menegakkan kebenaran hanya menggunakan lidah dan ancaman penjara yang sering menjadi igauan.Cuma, syabab Hizbut Tahrir tidaklah sebaris Imam Abu Hanifah.Yang saya hendak kemukakan hanya gaya hidupnya saja.

Sunday, April 4, 2010

Ulasan Novel Sejarah Islam

Ulasan Novel Sejarah Islam

Sejak dua menjak ini, saya suka pulak membaca buku novel sejarah Islam, penulisnya Abdul Latip Talib. Dia banyak memberi maklumat dan pengetahuan yang hampir saja kita tidak mengetahuinya. Apatah lagi, dengan pemikiran yang dididik oleh Hizbut Tahrir, iaitu pemikiran Islam yang tulen dapatlah saya memandu diri agar terus berusaha untuk menegakkan kebenaran Islam berserta hukumNya. Agar kita dapat melahirkan generasi yang baru sebanding dengan pahlawan Islam yang terdahulu.


Khalid Memburu Syahid

Novel ini menceritakan sejarah hidup beliau bermula sebelum memeluk Islam sehinggalah saat-saat akhir hayatnya. Beliau sempat melahirkan perasaan kesalnya tidak syahid di medan perang sebaliknya bak kata beliau, “seperti matinya seekor unta”. Namun, seorang sahabatnya, Abu Zanad menenangkan diri beliau,” Nabi Muhamad SAW mengurniakan kepada saudara gelaran Pahlawan Pedang Allah. Baginda juga mendoakan saudara menang dalam setiap peperangan. Disebabkan itulah saudara tidak boleh mati dibunuh oleh orang kafir. Saudara juga tidak boleh tewas dalam peperangan kerana doa Nabi Muhamad dimakbulkan Tuhan”. Bagi ulasan saya, banyak-banyak bab peperangan yang dilalui oleh Khalid. Saya tertarik dengan peristiwa panglima perang Rom, Gergorius memeluk Islam. Caranya amat unik sekali.



Abu Ubaidah –Penakluk Parsi
Novel ini menyentuh kisah hidup Abu Ubaidah sebelum memeluk Islam lagi sambil melintasi zaman Jahiliah menekan hidup orang muslim. Selama ini, saya tidak tahu pula, beliau mendapat gelaran “Penjaga Amanat Umat”, ini berdasarkan hadis Rasulullah SAW,”Setiap umat ada penjaga amanat bagi umatku adalah Abu Ubaidah Al Jarrah”. Menariknya novel sejarah ini, menceritakan babak pembebasan kota-kota Rom,di Damsyik, Fihl, Hims, Antakiah dan lain-lain lagi selepas peperangan Yarmuk. Cerita penaklukan kota-kota tersebut dikaitkan bantuan Khalid Al Walid. Cuma, saya hairan kenapa novel sejarah ini diberi tajuk “Penakluk Parsi” sedangkan hampir seluruh ceritanya hanya berkisar dengan kerajaan Rom sahaja?.



Salahudin Ayubi -Penakluk Jerusalem
Ramai dikalangan peminat sejarah Islam mengetahui kisah perang Salib. Namun, tanpa membaca buku novel sejarah ini,kita tak kenal siapakah Salahudin Ayubi yang sebenarnya. Bintang Islam ini tidak menyerlah pada usia remajanya. Sejak beliau berpindah ke Mesir, cahayanya terus bersinar-sinar. Rupa-rupanya, bukan mudah hendak menewaskan tentera salib ini, usaha beliau bermula dari dalam negeri kaum muslimin. Penyatuan kaum muslimin di Mesir adalah titik awal kebangkitannya. Penyingkiran pengaruh puak Syiah yang lalai dengan keindahan dunia adalah langkah awalnya. Namun, caranya bijak dan teratur tanpa disedari puak berkenaan. Setelah beliau berjaya menyatukan kaum muslimin di Mesir dan Syam, barulah beliau melancarkan serangan terhadap tentera Salib. Beliau meninggal dunia akibat demam panas ketika beliau pulang ke tanah kelahiran beliau, di Damsyik.



Sultan Muhamad Al Fateh -Penakluk Konstantinopel
Saya ucapkan syabas kepada penulis buku novel sejarah ini. Banyak pengetahuan yang saya timba disini. Semasa saya baca buku-buku novel ini, saya rasa hendak hidup pada zaman mereka (ketika zaman pemerintahan Islam –khilafah). Rindunya semakin menebal. Sultan Muhamad seorang pemuda (dilantik menjadi sultan -19tahun) yang berusaha gigih menakluki kota Konstantinopel atas dasar sebuah hadis Rasulullah SAW. Bahkan beliau dikhabarkan oleh ulama-ulama istana sebagai pemimpin yang berjaya menakluki kota tersebut, sejak ibu mengandungnya lagi. Rupa-rupanya, idea memindahkan kapal ke Tanduk Emas melalui jalan darat, bukanlah idea datang dari Sultan Muhamad, tapi dari ilham Illahi melalui mimpi. Kemudian beliau menanyakan hal tersebut kepada seorang ulama, Sheikh Shamsudin. Ulama tersebut menyuruh lakukan apa yang dimimpikan agar menjadi kenyataan. Usaha ini, berjalan lancar dengan adanya genjatan senjata (yang dipinta oleh Raja Rom) selama seminggu dengan menyediakan landasan untuk kapal dipindahkan. Dengan bantuan angin kencang yang bertiup dari laut ke darat dapatlah membantu tentera memindahkan kapal sebanyak 70 buah dan dilakukan hanya 1 malam,dengan sejauh 3 batu berserta mendaki bukit. Hebat kan!!


Tariq -Menang ataupun Syahid
Tindakan beliau membakar kapal seringkali menjadi kontradik. Sehinggalah beliau berjaya menakluki Andalusia masih ada orang menuntut gantirugi kerana membakar kapalnya. Namun, kesudahannya baik, orang tersebut akhirnya memeluk Islam. Kehebatan Tariq tidak perlu dipertikaikan kerana beliau sebaris nama pahlawan Islam yang berjasa besar dalam Islam. Imannya tinggi, dalam operasi beliau menakluki Portugal pun, (selepas menakluki Andalusia) beliau tidak tertarik dengan sambutan kedatangan istimewa oleh orang Portugal yang menyediakan perempuan, arak dan daging babi. Dengan harapan dapat membunuh Tariq dan tenteranya (10 ribu orang) secara mudah. Memandang beliau tidak layan semua itu, Portugal terpaksa tunduk kepada hukum Islam. Cuma, kisah Tariq dalam novel ini agak tergantung pada babak akhir hayatnya.

Tuesday, March 30, 2010

What HarakahDaily said about Hizbut tahrir methodology?




Malaysia's two faces of literal Islam
Dr Ahmad Farouk Musa

The Muslim world is not ideologically monolithic and embedded therein are various spectrum of perspectives ranging from one extreme to the other. The new millennium is witnessing a contest between the various ideological groups representing differing interpretations of the religion of Islam. Irrespective of the multitudes of ideologies within Islamism, the main similarity shared is the political and ethical discourse intended to disarm the discourse of their opponents.

Bobby Sayyid has argued in ‘A Fundamental Fear: Eurocentrism and the Emergence of Islamism’ that the central aim of Islamism is to restore Islam’s place as the central reference point for all social, cultural, economic and political life in Muslim society. In a time when Islam is portrayed to be out-of-date and out-of-touch leading to the current state of phlegmatism among Muslims, it creates an avenue for the Islamists to put forward a system that had been marginalised and abandoned, yet remained positive and uncontaminated by the evils of modernity. And aided by the forces of globalisation, the Islamists are now battling for the hearts and minds of the people within their constituency.

This article intends to discuss only two groups of Islamists within the multitude of Islamist movements in our country. Despite sharing one commonality between them, namely the literal approach in understanding Islam, their views toward politics and governance are in exact total contrast. And due to the simplicity in their approach and methodology, they attract quite significant followers especially among young university students who are still trapped in idealism.


Hizb-ut-Tahrir

Though generally Malaysia boasts a tradition of inclusive and moderate Islam with a significant member of Islamic scholars especially from the Pan-Malaysian Islamic Party (PAS) engaging themselves in a push for greater democracy, a vibrant civil society and respect for human rights.

There exist a rejectionist group known as Hizb-ut-Tahrir that considers democracy antithetical to Islam. This movement that promotes literal interpretation of Islam gains its strength from the young and naive university students. The main reason that makes Hizb-ut-Tahrir appealing to the young minds is the simplicity in its approach and methodology.

The main thrust of their manhaj or methodology is to promote establishment of the ‘Caliphate’. When the ‘Caliphate’ is established, then all other problems faced by the community at large will be solved.


Democracy


Hizb-ut-Tahrir believes that democracy is an infidel system or Nizam-u-kufr that was marketed in the Muslim country by the blasphemous West. Democracy is said to have nothing whatsoever to do with Islam. It contradicts the source of Islam, the ideology it emanates from, the foundation it is based on, and the ideas and system it has came up with.

Although the structure of organisation of Hizb-ut-Tahrir may not be clearly visible, and perhaps it is part of the manhaj to remain obscure and clandestine in nature; its radical rhetoric is appealing to the young and vibrant Muslim students that seek simple and uncomplicated solutions to the problems faced by the ummah.

The radicalisation of the tactics, approach and discourse of Hizb-ut-Tahrir in promoting the Islamic state agenda complete with Syari’ah laws and the establishment of a Caliphate is a shift towards a more exclusive and confrontational domain, especially when the discursive and political space for new movements was not there, being controlled by the more established Islamic party.

How Hizb-ut-Tahrir intends to achieve its agenda in a plural Malaysian society where Muslims form only a slight majority remains an enigma. But to the simple minds, such a question may not be considered of paramount importance, as much as whether Hizb-ut-Tahrir can help to deliver a new form of politics to Malaysia or whether the rise of Hizb-ut-Tahrir will mark a further degeneration of Malaysian politics.


Salafis

The rigid and two-dimensional interpretation of Islam is not the sole-property of Hizb-ut-Tahrir, but is shared in spirit by the Salafis, or derogatorily labelled as Wahhabis by the mainstream traditionalists. Adamant that the Qur’an and Hadith be read and understood literally and the world is understood in rigid black-and-white terms, they proposed for the replication of a community that existed during the seventh-century Madinah or the community of as-salafus-soleh (the pious predecessors) that existed during the first three-hundred years after the time of the Prophet.

While Hizb-ut-Tahrir propagates the establishment of the Caliphate as the ultimate solution, the salafis propose the replication of the community of as-salafus-soleh as its main thrust. This period according to the salafis is the Golden Age of Islam and should be remembered as a period of ‘pure Islam’.


Appealing simplicity

This simplicity, as the case of Hizb-ut-Tahrir, is appealing to the young Muslims especially those from Islamic background since many books especially in Arabic that propagate this idea are made available by the main sponsors, the ostentatious Saudi government.

It is interesting to note that ‘pure Islam’ is never defined and whatever this undefined pure Islamic society may look like is a shared vision based in a shared history. An assumption is made as if the community of as-salafus-soleh is a monolithic community and that there were no differences in opinions and approach; where in actual fact the community at that time were as diverse as we are in the twenty-first century.

But to the young and untrained minds, what was in the past, the history as envisioned by the salafi that became the model of his everyday life, will be the blueprints for future action. And in the salafi imagination then, the factor standing in the way of potential utopia is anything alien to their perceived Islam including modern system of governance.

In reconstructing the Golden Age of Islam, Salafism embarks on an imaginative project to create an intangible mythical past in its midst. In doing so, they invent what they do not know, improvise what they do but what no longer exists and demarcate what in the present fits into this imaginative landscape of ‘true Islam’.

The salafis were largely motivated by a desire not to let any practices deemed alien to the Islamic culture to interfere and possibly corrupting Muslim identity and unity. Similar to Hizb-ut-Tahrir, they perceived democracy as alien to Islam and advocated total rejection of any participation within a democratic process.


Link with ruling party

In tandem with many Saudi-based scholars, the salafis in Malaysia will blindly support the existing government, irrespective of whether the government is authoritarian or democratic. This is based on their false belief that it was the practice of as-salafus-soleh; and any acts of opposition against the ruling government, although through democratic means, are deemed as unIslamic.

Hence, it is not a surprise then to notice such an intimate association between the salafis and certain leaders of the ruling party in Malaysia. It is more revealing when some salafi leaders themselves were given spaces in the tightly controlled mainstream media.

To the ruling government, this is the most convenient marriage that would ensure their perpetual grip on power. The only factor that is preventing the salafis from assuming greater role within the government agencies reciprocally is the strong opposition by the mainstream traditionalists that pervade almost the entire government machineries.


Possible contenders?

We have seen the two differing faces of literal Islam albeit briefly, namely the anti-establishment Hizb-ut-Tahrir and the pro-government salafis.

Islamism as propagated by Hizb-ut-Tahrir is seen as a direct political challenge on the state. This is simply due to the fact that they wish to present themselves and their party as a viable alternative to the present order.

Islamism according to the salafis on the other hand, is based on the mythic presumption with regard to the manhaj of the pious predecessors that prevent any opposing acts against the ruling government, though both viewed the current prevailing system as alien to their perceived Islam.

The growing influence of literal Islam is yet to effect any change in equilibrium of political Islam in Malaysia, but unless their manhaj and modus operandi are fully understood, they remain as possible contenders in determining the political discourse in the near future.

From:

http://harakahdaily.net/en/index.php?option=com_content&view=article&id=250:malaysias-two-faces-of-literal-islam&catid=49:ahmad-farouk-musa&Itemid=94

Monday, March 29, 2010

Orang Jepun Berbicara Tentang Syariah Dan Khilafah




Orang Jepun Berbicara Tentang Syariah Dan Khilafah



Pada hari Ahad, 7hb Mac 2010 telah berlangsung satu seminar anjuran Hizbut Tahrir Malaysia dengan kerjasama Khilafah Center bertempat di dewan Masjid Jamek Sultan Abdul Aziz Petaling Jaya. Seminar yang mengangkat tajuk “Menyingkap Sejarah Khilafah Antara Pejuang Dan Petualang” telah menarik lebih kurang 400 orang peserta. Apa yang menariknya seminar anjuran HTM kali ini ialah apabila pembentang pertama seminar tersebut adalah seorang muslim dari Jepun iaitu Prof Hassan Ko Nakata iaitu seorang pensyarah pengajian Islam di Fakulti Theologi Universiti Doshisha, Jepun.



Dalam pembentangan beliau, Prof Hassan Ko Nakata menjelaskan bahawa adalah suatu perkara yang rasional untuk umat Islam bersatu pada hari ini bagi mengatasi pelbagai musibah dan penghinaan yang ditimpa oleh umat Islam samada di Iraq, Afghanistan dan sebagainya. “Jika masyarakat Eropah boleh berfikir untuk bersatu dengan menubuhkan Kesatuan Eropah kenapa tidak umat Islam, sedangkan kesatuan dan persaudaraan umat Islam itu adalah sebahagian dari tuntutan dan ajaran Islam” ujarnya. Beliau juga mengatakan bahawa kewajiban menegakkan Khilafah ini adalah merupakan kesepakatan jumhur ulama dan bukannya hanya diperkatakan oleh Hizbut Tahrir. “Ini adalah fikrah Islam” katanya lagi. Diantara perkara yang menariknya juga ialah pandangan dan ulasan dari salah seorang peserta seminar yang sempat ditemu bual didalam seminar tersebut katanya: “ Wah! Sesuatu yang amat baik apabila orang Islam Jepun sudah mula berbicara tentang syariah dan Khilafah. Maka tidak ada sebab bagi umat Islam di Malaysia tidak bersama dengan perjuangan bagi penegakkan syariah dan Khilafah ini”. Sementara dalam pembentangan oleh ahli panel kedua iaitu oleh Ustaz Ahmad Mustafa selaku ketua HTM Mahaliyyah Kuala Lumpur, beliau telah menjelaskan dan menerangkan tentang hadith yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad. Rasulullah SAW bersabda:

"Telah berlaku zaman kenabian keatas kamu, maka berlakulah zaman kenabian itu sebagaimana yang Allah kehendaki, kemudian Allah mengangkat zaman itu. Kemudian berlakulah zaman khalifah yang berjalan sepertimana zaman kenabian. Maka berlakulah zaman kenabian itu sebagaimana yang Allah kehendaki, kemudian Allah mengangkatnya. Kemudian berlakulah zaman pemerintahan yang menggigit. Berlaku zaman itu seperti yang Allah kehendaki. Kemudian Allah mengangkatnya juga, kemudian berlakulah zaman pemerintahan diktator (zaman penindasan dan penzaliman), dan berlakulah zaman itu sebagaimana yang Allah kehendaki. Kemudian berlaku pula zaman khalifah yang berjalan diatas cara hidup zaman Kenabian" [H.R. Imam Ahmad, Bazzar dan Attabrani dari Abu Huzaifah Al-Yamani].


Dalam pembentangan tersebut beliau juga telah menerangkan bagaimana ketika umat Islam melalui dan mengecapi zaman kegemilangannya umat Islam telah mengecapi pelbagai kejayaan dan merasakan kenikmatan bahawa Islam itu benar-benar membawa rahmat ke sekelian alam. Kini keadaannya cukup berbeda dengan situasi umat Islam disaat ini yang berada dizaman yang dikatakan oleh Nabi SAW berdasarkan hadith diatas iaitu zaman pemerintahan diktator (zaman penindasan dan penzaliman). Umat Islam pada hari ini umumnya telah dikhianati oleh para pemimpin-pemimpin sekular yang menjadi agen kepada barat yang telah bekerjasama dengan musuh-musuh Islam secara langsung mahupun tidak langsung untuk menghalang kebangkitan Islam dan umat Islam itu sendiri. Apa yang berlaku didalam dunia umat Islam hari ini sudah cukup membuktikan bagaimana khianatnya para pemimpin umat Islam hari ini. Mereka telah mengabaikan perintah Allah SWT yang mewajibkan untuk menerapkan Islam didalam kehidupan bernegara dan dalam masa yang sama mereka juga telah menghalang mana-mana gerakan Islam yang cuba untuk mengembalikan Islam kedalam kehidupan umat. Justeru itu sudah jelas dari catatan sejarah umat Islam bahawa siapakah pejuang dan siapakah petualang.




kekuasaan Khilafah Islam yanag terakhir iaitu Khilafah Uthmaniyyah telah mencatatkan bahawa Sultan Abdul Hamid adalah merupakan diantara para pejuang umat Islam dan dalam masa yang sama telah lahirnya petualang yang menghancurkan Khilafah Islam di Turki iaitulah Mustafa Kamal At-Tartuk laknatullah yang menjadi agen British bagi menghancurkan Khilafah yang secara rasmi dihancurkan pada 3 Mac 1924 iaitu kira-kira 86 tahun yang lepas. Semoga dengan adanya seminar-seminar yang seumpama ini maka umat Islam akan dapat melihat dengan kepala mata mereka sendiri betapa kini mereka dapat mengenal dan menyedari siapakah sebenarnya pejuang dan siapakah petualang bagi umat Islam yang sebenarnya.

sumber: www.mykhilafah.com

Tuesday, March 23, 2010

Gerakan Freemasonry: Dalang Musuh Islam

Gerakan Freemasonry: Dalang Musuh Islam



Saya baru membaca buku ini, isinya bagus dan banyak pendedahan musuh dalam selimut ini banyak berkeliaran di kalangan kita. Gerakan tersusan rapi ini, bertindak sebagai penyalur maklumat, mengatur dan melaksanakan melalui agen mereka yang tersediada dalam bidang pemerintahan. Pada mulanya, Freemasonry memusuhi agama Kristian. Namun mengalih perhatiannya kepada kepada Islam. Selama mengkaji apakah tunjang kekuatan Islam, mereka mendapat rumusan bahawa Khilafah mesti dihapuskan terlebih dahulu, barulah senanglah merosakkan bidang-bidang lain seperti ekonomi, sosial, hubungan luar negara dan tidak ketinggalan agama. Matlamat utama mereka ialah menjadikan satu agama baru hasil gabungan tiga agama yang sedia ada (Islam, Kristian dan Yahudi) yang dipanggil "International Religion", dengan alasan semua agama adalah sama. Freemasonry telah mengatur rancangan perang dunia pertama dan kedua, menghapuskan daulah khilafah serta sedang merancang perang dunia ketiga diantara barat dan dunia Islam. Itulah ulasan saya dari pembacaan buku ini .

Monday, March 15, 2010

Umat Islam bantah kehadiran Obama


[img]http://farm5.static.flickr.com/4043/4437639944_6f83b0fdf0.jpg[/img]

Rakyat Indonesia bantah Obama
JAKARTA 14 Mac - Ribuan rakyat Indonesia berhimpun secara aman di bandar raya utama republik tersebut hari ini bagi membantah lawatan Presiden Amerika Syarikat (AS), Barack Obama ke negara tersebut beberapa hari lagi.

Kira-kira 2,000 orang dari kumpulan Hizbut Tahrir yang bermatlamat menubuhkan sebuah kerajaan Islam melaungkan slogan 'Islam bersatu... tidak akan tewas. Singkirkan Obama'.

Mereka turut mengoyakkan bendera AS ketika berarak di ibu kota Sulawesi Selatan, Makassar.

Di Solo, Jawa Tengah, sejumlah 500 orang lagi berarak sambil membawa poster tertera 'Halau Obama... pemimpin penakluk' dan 'Amerika... pengganas sebenar.'

''Terdapat dua jenis pelawat, baik dan jahat. Obama jahat. Mungkin warna kulitnya berbeza dengan (bekas Presiden AS) George Bush, namun dia masih menindas orang Islam,'' kata jurucakap kumpulan itu, Nur Alam.

''Dia mungkin membesar di Indonesia namun ia bukan asas untuk tidak menolaknya. Dia seorang yang kejam, tangannya dipenuhi darah dan dia tidak mempunyai belas kasihan,'' katanya.

Obama secara amnya amat popular di Indonesia memandangkan beliau menetap beberapa tahun di Jakarta ketika masih kanak-kanak pada 1960-an.

Obama dijadual berlepas dari AS pada 21 Mac untuk melawat Indonesia serta Guam dan Australia.

''Presiden akan menggunakan lawatan ke Indonesia untuk menyampai ucapan sama seperti yang dilakukannya di Kaherah tahun lalu, iaitu menggesa negara-negara Islam mengeratkan hubungan dengan AS,'' kata jurucakap White House, Robert Gibbs. - AFP

daripada:

http://www.utusan.com.my/utusan/info.asp?y=2010&dt=0315&pub=utusan_malaysia&sec=Luar_Negara&pg=lu_03.htm&arc=hive

Sunday, February 28, 2010

Pemimpin Islam jadi 'balaci',halang Maulidur Rasul




Pemimpin Islam jadi 'balaci',halang Maulidur Rasul




Oleh TARMIZI ABDUL RAHIM
tarmizi.rahim@utusan.com.my

KUALA LUMPUR 27 Feb. - Ahli Parlimen Kulim-Bandar Baharu, Zulkifli Noordin menyifatkan pemimpin Islam yang bersetuju dengan cubaan pihak tertentu membatalkan sambutan Maulidur Rasul sebagai "bajingan" serta "balaci" yang rela dicucuk hidung seperti lembu.

Beliau bagaimanapun tidak menyatakan pihak mana yang cuba membatalkan sambutan itu dan mereka yang dimaksudkannya sebagai bajingan tersebut.

Katanya, pemimpin Islam seperti itu umpama lalang yang akan mengikut segala rentak yang dimainkan oleh pihak yang cuba membatalkan sambutan yang menjadi syiar bagi umat Islam di negara ini.

"Dan yang paling malang, ada di kalangan kita yang bersedia menjadi bajingan dan balaci mereka, menjadi seperti lembu yang dicucuk hidung.

"Bila kafir ini meniup ke kiri, maka terkinja-kinjalah kita berjoget ke kiri. Bila mereka menghembus ke kanan, maka terkial-kiallah kita berzapin ke kanan," katanya sewaktu membacakan khutbah sembahyang Jumaat, semalam.

Entri bertajuk "Khutbah Maulidur Rasul" itu turut dimasukkan dalam blognya, http://zul4kulim.blogspot.com.

Sebelum ini, Utusan Malaysia melaporkan pendedahan Setiausaha Sekretariat Perhimpunan Melayu Pulau Pinang, Mohd. Nor Suhaili Jamali mengenai pembatalan perarakan sempena Maulidur Rasul oleh kerajaan Pulau Pinang.

Bagaimanapun, selepas dikritik hebat dan bimbang kehilangan sokongan orang Melayu, Ketua Menteri, Lim Guan Eng membuat keputusan untuk mengadakan perarakan tersebut mengikut program asal sebelum ia dibatalkan.

Malah, Guan Eng menafikan perarakan itu dibatalkan dan menuduh Utusan Malaysia berbohong dan membuat fitnah untuk memburuk-burukkan kerajaan negeri.

Tambah Zulkifli, penghinaan itu berlaku kerana penyakit 'wahan' (cintakan dunia dan takutkan mati) apabila pemimpin Islam terbabit terlalu sayangkan kedudukan, jawatan dan habuan.

"Kita mengenepikan semua prinsip dan matlamat perjuangan demi mengejar impian keduniaan dan kerusi empuk kekuasaan.


"Hingga kita sampai mempertuhankan politik dan demokrasi. Kita takut kedudukan, jawatan dan habuan kita itu mati dan hilang.

"Maka hari ini kita menjadi umat yang hina di mana-mana sahaja kita berada. Yang tinggal hanya sejemput janggut dan senipis serban, kita hanya muncul Islam pada nama, tetapi tong kosong di dalam," katanya.

Jelas Zulkifli, kesatuan umat Islam bukannya bersandarkan kepada nasionalisme; assabiyah puak, kumpulan atau pertubuhan tetapi kekuatannya berpunca daripada pegangan kukuh kepada al-Quran.

http://www.utusan.com.my/utusan/info.as ... =mh_01.htm

Dapatkan berita yang berkaitan ini:
http://jemaah-islam.blogspot.com/2010/03....dakwah-itu.html

Monday, February 15, 2010

Membongkar kebenaran Hizbut Tahrir



Membongkar kebenaran Hizbut Tahrir

Terlebih dahulu saya ucapkan tahniah dan syabas kepada majalah Al Islam keluaran bulan baru Mac 2010. Kerana berani tampilkan kebenaran yang kian lama diselimuti pelbagai fitnah yang dilemparkan kepada Hizbut Tahrir. Alhamduillah, segala fitnah dilemparkan akhirnya terjawab oleh Presiden Hizbut Tahrir Malaysia sendiri, Abdul Hakim Othman. Diharap agar semua pihak media yang lain mengikuti jejak langkah majalah Al Islam dan Mastika. Saya sendiri akan memberi motivasi kepada rakan-rakan yang lain agar membeli majalah tersebut. Secara tak langsung akan melariskan jualan majalah tersebut pada bulan tersebut. Insya Allah.

Friday, December 18, 2009

Susilo digesa tegakkan Syariah tangani rasuah


Susilo digesa tegakkan Syariah tangani rasuah


JAKARTA 6 Dis.2009 - Ribuan penunjuk perasaan berarak hari ini di Indonesia bagi bagi menggesa kerajaan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono supaya melaksanakan undang-undang Syariah sebagai satu-satunya kaedah untuk menangani kegiatan rasuah yang berleluasa di republik itu.

Anggota Hizbut Tahrir mengadakan demonstrasi di beberapa buah bandar termasuk di ibu negara Jakarta, sebagai membantah isu tindakan kerajaan menyelamatkan Bank Century berjumlah AS$700 juta (RM2.5 bilion).

Di Jakarta, ribuan penunjuk perasaan menguasai jalan raya bersama keluarga dan anak-anak mereka sambil membawa sepanduk yang mengecam sistem kapitalis sebagai punca kepada kegiatan rasuah.

"Skandal Bank Century merupakan bukti kegagalan sistem kapitalis," menurut kenyataan pada sebuah daripada sepanduk.

"Dengan mengamalkan sistem Syariah di bawah khalifah Islam, Indonesia bebas daripada rasuah," menurut satu lagi sepanduk.

Penggubal undang-undang kini sedang meneliti dakwaan rasuah yang berkaitan dengan tindakan menyelamatkan Bank Century tahun lepas selepas ketua juruaudit negara tersebut menemui tanda-tanda kukuh wujudnya 'pencabulan' undang-undang.

"Sistem kapitalis telah menghancurkan ekonomi kita. Itu merupakan punca kepada semua masalah di negara kita," kata jurucakap Hizbut Tahrir, Muhammad Ismail Yusanto pada perhimpunan itu.

Presiden Susilo telah dipilih semula dalam satu kemenangan besar pada pilihan raya pada bulan Julai lalu yang mana beliau berjanji untuk membanteras rasuah yang sudah sebati di negara itu.

Namun popularitinya telah diuji dengan skandal yang membelenggu suruhanjaya anti-rasuah Indonesia dengan kira-kira AS$715 juta (RM2.6 bilion) jaminan kerajaan daripada bank. - Agensi

sumber daripada:
http://www.utusan.com.my/utusan/info.asp?y=2009&dt=1207&pub=utusan_malaysia&sec=Luar_Negara&pg=lu_02.htm&arc=hive

Sunday, November 8, 2009

The Star online talk about Hizbut tahrir


Whither moderation?
SHARING THE NATION
By ZAINAH ANWAR


The arrest of a progressive ulama has plunged many Malay­sians into further despair that this country is hurtling towards an implosion but it may prove a blessing in disguise.

What else needs to happen before our political leaders on both sides of the divide find the will and courage to walk the talk of seeing a plural, diverse Malaysia as a source of strength and not a threat?

That a former mufti who holds progressive views and challenges the conservative religious authorities could be arrested and treated as if he was Noordin Mat Top just shows how far those pushing for an Islamic state and syariah supremacy are willing to go to ensure that their rigid and intolerant understanding of Islam prevails.

That this arrest and attacks on Dr Mohd Asri Zainul Abidin led by the Malaysian Asso­ciation of Syariah Lawyers (PGSM) and its Islamist allies, including Muslim Youth Move­ment of Malaysia (Abim) and Jemaah Islah Malaysia (JIM), should take place now is clearly a concerted effort to test the strength of the new Prime Minister on matters of religion.

Similarly, these Islamists have also relaunched another round of attacks against Sisters in Islam by reportedly lodging over 50 police reports against the group and holding public forums, this time led by the extremist Hizbur Tahrir, a global Islamist group intent on reviving the Islamic Caliphate.


Speaking his mind: Dr Asri, a former mufti, was accused of illegally delivering a religious talk in Selangor.

Little known in Malaysia, but banned or investigated in other countries, the Malaysian branch of Hizbur Tahrir has become more public in its activities, with banners in various neighbourhoods and announcements of events in mosques after Friday prayers.

For years now, the Islamic state ideologues have been pushing the boundaries of the forbidden in Malaysia. They have been relentless in their attacks on those working on women’s rights and fundamental liberties as guaranteed by the Federal Constitution and in pushing for the expansion of syariah jurisdiction in Malaysia.

They include areas such as freedom of religion, the right of the non-converting wife and children when a husband converts to Islam, moral policing, book banning, seizure of Bibles written in Bahasa Malaysia, fatwa on kongsi raya, yoga, pluralism, liberalism, to the sprouting of Islamist NGOs under all manner of names signing all kinds of petitions against fundamental liberties.

From matters such as making police reports against progressive groups and individuals, to holding rallies and seminars with inflammatory titles such as “Islam Di Hina”, “Umat Islam diCabar”, “Bahaya Murtad”, “Bahaya Islam Liberal”, the Govern­ment and the opposition have largely failed to support the moderate social forces of Malay­sian society.

While moderate politicians cower in silence in fear of being labelled as anti-God, anti-Islam and anti-syariah, or opportunistic ones shamelessly and dangerously fly the flag of Islam to advance their short-term political agenda, it is Malaysian civil society that has shown courageous civic leadership where political leadership has failed us.

Now that a religious leader from within the establishment has become the target of these intolerant Islamist forces inside and outside government, will the political leadership finally show the courage needed to act?

What kind of Islam does the Prime Minister envi­sage in his 1Malaysia? Certainly not the Islam of the Selangor State Religious Depart­ment (JAIS) and the PGSM who accused Dr Asri of all manner of dastardly insults to Islam as they perceive it.

While the arrest of Dr Asri plunged many Malaysians into further despair that this country is hurtling towards an implosion, I think it is actually a blessing in disguise.

It is obvious that both the JAIS and the PGSM and their Islamist allies have made a tactical error, underestimating the popular support that Dr Asri and his ideas enjoy in this country.

It is time for the silent majority of moderate Muslims in Malaysia to speak out. Certain­ly Dr Asri’s supporters at the Mahkamah Syariah Gombak on Monday stood up to be counted.

While Dr Asri talked of “hidden hands” behind his arrest, neither the federal government nor the Selangor state government claims responsibility for this display of state power against a former mufti.

What could be the motive when a state religious authority combined with federal law and order forces display heavy-handed powers to arrest an Islamic scholar for his progressive ideas that challenge the authoritaria­nism of Islam in Malaysia? Who called the shots? Who really is in control?

For me, this debacle is once again evidence of the unenforceability of the invasive powers of the Syariah Criminal Offence laws of this country. In this instance, the provision that makes it an offence for anyone to teach Islam without certification (tauliah) from the state religious authorities.

When is someone teaching Islam and when is he not? Who has the authority to decide on that? What are the criteria that constitute teaching of Islam? On what basis are some certified to teach Islam, some are not, some are prosecuted while many more others can freely preach hatred, racial ill-will, and miso­gyny in the name of Islam?

Just listen to the ceramahs amplified over loudspeakers for all in the neighbourhood to hear, even when you don’t want to.

Then there is the larger issue of whether this specific provision restricting freedom of speech is against Islamic principles that uphold diversity and differences in Islam and against constitutional guarantees of fundamental liberties.

Yet again, the enforcement of this ill-advised, badly drafted syariah law with its wide range of “sins” turned into crimes against the state and restrictions over the exercise of fundamental freedoms has led to public outrage.

There is an obvious disconnect between public opinion and societal values on what constitutes fair and just in Islam, and the intolerant, punitive, misogynistic Islam of those who conveniently use God’s authority to justify despotism in the name of Islam.

As more foreign scholars and journalists come to Malaysia to study this supposedly model “moderate” Muslim country, they go away surprised at the range of laws, mechanisms and structures in the name of Islam that control and restrict Muslim rights and freedoms.

They are shocked that a modern country like Malaysia could have unprecedented laws that make it a crime if one disobeys a fatwa, that turn moral obligations before God into legal obligations before the state, that turn sins into crimes, that confuse what is haram (forbidden), wajib (obligatory), sunat (recommended), harus (permissible) and makruh (discouraged) in its laws.

That Dr Asri could be accused of being a Wahhabi, at the same time a liberal, a progressive, a radical, is just one measure of that confusion and ignorance in Malaysia.

It is not possible to be liberal or progressive and Wahhabi at the same time. If at all, those who signed the memorandum written by the PGSM are the Wahhabi followers.

The puritanical Wahhabi movement which spread throughout the Muslim world over the past few decades, fuelled by Saudi petro-dollars, negates the diversity and complexity of the Muslim juristic heritage.

Dr Asri’s position on issues such as freedom of religion, differences of opinion in Islam, the imperative for reform, his criticisms of the delays and bias against women in the syariah courts, of khalwat laws and invasion of privacy, book banning and fatwa against yoga and kongsi raya have put him on the wrong side of the conservatives who dominate the religious bureaucracy and the Islamic state ideologues and their supremacist thinking.

Dr Asri is no Wahhabi. And it is obvious who the Wahhabis in the Malaysian political scene are.

The Egyptian legal scholar, Khaled Abou El-Fadl, wrote that while submission to God is at the core of the Islamic creed, this does not mean blind submission to those who claim to represent God’s law.

For too long in this country, those who claim to speak in God’s name have cowed too many into silent submission and perpetual ignorance. For too long, our political leaders have not shown the courage or the will to fully deal with the threat posed by these religious zealots within government and their own parties.

What is desperately needed now is leadership, courage, and vision to stand up for what is right for Malaysia – that there is no place in a country like ours for an Islam that is punitive, cruel, misogynistic, and intolerant.

More than any other country in the world, Malaysia with its historical embrace of all races and religions, its celebration of diversity and pluralism, its gentler and kinder Islam, plus its economic success story and its political stability should be better placed to lead the Muslim world into a modern and prosperous age in the midst of extremism, calamities and despair that beset the ummah.

It is a tragedy that this government has poured hundreds of millions into numerous religious institutions supposedly to enable Malaysia to take the lead as a model moderate Muslim country – only to find its Islamic agenda hijacked by the very ideology that has contributed to the decay of other Muslim countries, where Muslims killing other Muslims for their belief and political affiliation have become the norm.

God forbid that is the future of Malaysia.

As all the political leaders seem to agree that the country is at a turning point, that their party members must change and face difficult realities of a changing and diverse electorate, of a globalised competitive world that waits for no man, of the rise of China and India, can they also please embrace the reality that an Islam of kindness and compassion, of diversity and differences, of equality and justice constitute what it means to be Muslim in the 21st century?

http://thestar.com.my/columnists/story.asp?col=sharingthenation&file=/2009/11/8/columnists/sharingthenation/5063571&sec=Sharing%20The%20Nation

Saturday, October 31, 2009

Yarmuk diantara kehebatan dan kesetiaan

Yarmuk diantara kehebatan dan kesetiaan

Jihad di Yarmuk diuji lagi diantara kehebatan panglima perang Islam dan
kesetiaannya dalam Islam. Dibandingkan jumlah bilangan tentera yang tidak
seimbang mengambarkan sesuatu mustahil pasukan Islam memenangi pertempuran ini.

Namun, bekalan keimanan seluruh tentera muslimin yang padu dan jitu dapat
mematahkan serangan hebat dari pasukan Romawi. Ketika hampir mencapai kejayaan
tibalah utusan surat pemecatan Panglima perang dari Khalifah Umar RA. Kali ini,
kesetiaan Khalid Al Walid diuji lagi. Bagi insan biasa, mungkin terjadi seperti kita
sukar untuk menerima berita ini. yalah, setelah berhempas pulas berjuang, tiba-tiba
berita pemecatan pula yang datang. Namun, kesetiaan panglima perang tidak berbelah bagi. Baginya, hanya untuk Islam, bukan untuk seseorang. Nampak sungguh keikhlasannya hanya kerana Allah. Bukannya mencari keredhaan sesama manusia.

Ujian ini lebih hebat jika dibandingkan dengan kehebatan di medan tempur yang sebenarnya. Bayangkanlah kalau beliau bertindak memberhentikan serangan ke atas pasukan Romawi dan mengarahkan pasukan Islam menyerang ke Madinah untuk merebut tahta jawatannya. Namun ini tidak berlaku.

Sebaliknya, panglima perang, Khalid Al Walid hanya berlapang dada dan mengarah berita ini dirahsiakan sehinggalah pasukan Islam mencapai kemenangan yang mutlak. Ini untuk menjaga moral dan motivasi tentera Islam yang lain agar terus berjuang.

Selanjutnya, kisah-kisah terperinci Jihad kaum muslimin di Yarmuk ada di sini:


kisah selanjutnya,klik di sini

Tuesday, October 27, 2009

Terjadi lagi, dimana garisan penamatnya?


Bakar al-Quran: Protes ganas berterusan

KABUL 26 Okt. – Polis Afghanistan hari ini melepaskan tembakan dan menghalakan meriam air ke arah penunjuk perasaan yang melancarkan protes di sini selepas timbul dakwaan tentera Barat membakar senaskhah al-Quran.

Tiga orang dilaporkan cedera terkena tembakan dalam pertempuran dengan polis, apabila polis cuba menghalang kira-kira 300 pelajar yang kebanyakannya lelaki daripada berarak ke bangunan Parlimen, kata ketua siasatan jenayah polis Kabul, Sayed Abdul Ghafar Sayedzada.

“Polis melepaskan tembakan ke arah orang ramai dan sebutir peluru mengenai saya ketika saya hendak menutup kedai saya,” kata seorang pemuda, Sherullah yang dimasukkan ke hospital setelah cedera di pinggul.

Sayedzada menafikan polis melepaskan tembakan ke arah orang ramai dan mendakwa mereka hanya menembak ke udara, selain menggunakan meriam air.

Bagaimanapun seorang doktor di wad kecemasan hospital Ibn Sina memberitahu AFP, sekurang-kurangnya tiga lelaki yang cedera ditembak telah dimasukkan ke hospital.

Lebih 15 anggota polis turut cedera dalam pertempuran antara penunjuk perasaan dengan pasukan keselamatan itu, kata jurucakap Kementerian Dalam Negeri, Zemarai Bashary.

“Kami mengadakan tunjuk perasaan untuk membantah pembakaran al-Quran oleh tentera asing tetapi polis tiba dan mula memukul kami,” kata seorang pemuda yang ditangkap.

Dalam protes serupa di sini semalam, penunjuk perasaan membakar patung Presiden AS, Barack Obama dan menyerang polis yang melepaskan tembakan ke udara untuk menyuraikan mereka.

Protes serupa tetapi lebih kecil turut berlaku di bandar Jalalabad dan Kandahar pada minggu lepas.

Seorang jurucakap Pasukan Bantuan Keselamatan Antarabangsa (ISAF) pimpinan Pertubuhan Perjanjian Atlantik Utara (NATO) berkata, dakwaan mengenai pembakaran al-Quran itu sudah disiasat dan didapati tidak berasas.

“Siasatan mendapati tidak ada anggota ISAF atau tentera Afghan yang membakar sebarang naskhah al-Quran di wilayah Wardak,” kata jurucakap itu. – AFP

------------
Kenapa? Ini sering berlaku, namun masih tiada pembela yang diharapkan.
Cuma kini kita lihat hanya penguasa yang diangkat oleh Penjajah Barat
mengekang suara-suara mempertahankan kesucian Islam. Mereka bukanlah
pembela atas kesucian Islam tapi merekalah yang menjadi onar dalam
gelora kebangkitan ini. Mereka(penguasa)seperti "Duri dalam daging"
atau "Sokong bawa rebah"...Sungguh hina penguasa yang berkelakuan
seperti terjadi di sana. Sampai bila ini semua ini sampai garisan penamat.

Insya Allah, kian hari kian jelas..bahawa kebatilan, kepura-puraan para
pemerintahan mulkan Jabarian dimata masyarakat penuh dengan kehinaan,keburukan
dan semakin ramai menyokong gerakan kebangkitan Islam yang sebenarnya. Khilafah!!
ya, itulah satu-satu kebenaran yang akan timbul dari kegelapan lumpur yang hina

Monday, October 19, 2009

Tentera upahan-hak asasi manusia dipertikaikan





Firma ketenteraan persendirian
Jalan belakang untuk Hak-hak Asasi Manusia

Firma Ketenteraan Persendirian atau lebih dikenali tentera upahan. Malah ia turut disebut istilah popularnya, Dogs Of War (Anjing Perang). Kumpulan tentera ini tidak mempunyai taat setia kepada mana-mana negara selain hanya tunduk dan patuh kepada ganjaran ataupun upah yang diterima bagi meraih keuntungan.

Lebih 90 firma ketenteraan persendirian atau PMC(Private Military Corporation) yang berkhidmat untuk lebih 110 buah negara, memberikan perkhidmatan ketenteraan yang pelbagai dari latihan, membekalkan sistem persenjataan,logistik,kawalan keselamatan sehinggalah anggota tentera untuk menceroboh mana-mana negara.

Artikel 47 dalam Konvensyen Geneva menetapkan bahawa tentera upahan adalah mereka yang direkrut untuk menyertai konflik bersenjata oleh sebuah negara, yang bukan merupakan negara ibunda mereka dengan tujuan mendapat atau mengaut keuntungan peribadi semata-mata.

Oleh itu, tugas mereka lebih seperti pengawal atau tentera persendirian yang diupah oleh pemimpin atau diktator yang memerintah secara kuku besi. Mereka akan memastikan bahawa rejim yang mengupah mereka terus kekal memerintah ataupun memboloti sumber galian, industri dan kewangan yang wujud tanpa sebarang tanggungjawab kemanusiaan.

Malahan, firma ketenteraan persendirian (PMC) juga digunakan oleh kuasa besar untuk mengekalkan dan mempertahankan rejim-rejim (pemerintah) sahabat ataupun menjatuhkan rejim (pemerintah) yang mereka tidak sukai.

Contoh penggunaan firma ketenteraan persendirian (PMC), sebuah firma kontraktor PMC diberikan kontrak bernilai USD 77 juta oleh kerajaan Arab Saudi untuk mengawal keselamatan telaga-telaga minyaknya. Di benua Asia pula. Di Filipina, firma PMC dikatakan lebih ramai daripada tentera dan polis yang sedia ada. Firma PMC terlibat dalam melatih pasukan khas di Irian Jaya, di Kampuchea firma PMC menjalankan aktiviti mencari periuk api.

Masalah Firma Ketenteraan Persendirian (PMC)
Persoalan yang timbul, di mana letaknya Hak Asasi Manusia (HAM) yang dilaungkan sebagai institusi yang suci lagi adil. Yang kononnya mampu menjaga kesejahteraan manusia. Sekiranya masih ada jalan belakang untuk dikhianati. Ternyata pembohongan hukum-hukum manusia ciptakan. Apa yang dilaungkan masih ada pintu keluar untuk dibolosi.

Ini kerana Firma Ketenteraan Persendirian (PMC) tidak terikat kepada undang-undang antarabangsa(PBB) dan PMC juga tidak pernah menandatangani apa-apa perjanjian yang berkaitan dengan Hak-hak Asasi manusia(HAM) serta tatacara peperangan. Malahan PMC juga tidak dapat dipantau seliaan senjata oleh negara yang diupahnya.

Ini bermakna, Firma PMC mampu melakukan sebarang keganasan dan kezaliman kerana ia tidak terikat dengan perjanjian Geneva ataupun Hak-hak Asasi Manusia. Maka, fungsi Hak-hak Asasi Manusia terhenti setakat ini saja.

Namun, bahaya firma PMC ini mampu mencereboh negara sasaran untuk menjatuhkan pemerintahan yang kuasa besar tidak sukai. Serta mampu mempertahankan pemerintahan yang berkuku besi walaupun seluruh rakyat di wilayah tersebut membencinya bahkan tidak menjadi masalah sekiranya sebahagian besar anggota tentera tempatan turut tidak menyukai. Mungkin inilah digunakan bagi wilayah penduduk islam di Uzbekistan, Pakistan, dan sebagainya. Tidak hairanlah sekiranya Islam Karimov, selaku pemerintah kuku besi di Uzbekistan mampu bertahan lama walaupun pembunuhan ke atas rakyat yang mencintai Islam untuk diterapkan dibunuh secara berleluasa. Pastinya, semakin ramai penduduk di Uzbekistan tidak menyukai pemerintah rejim tersebut. Namun, atas pertolongan dan menggunakan perkhimatan firma ketenteraan persendirian(PMC) dapat mengekang masalah tertimbul.

Sejauh Mana Kesetiaan PMC
Selaku tentera upahan yang diupah, semestinya ketaatan dan kesetiaan mereka tertakluk imbuhan wang yang diterima. Ikatan mereka sekadar Ikatan Materi. Ikatan semacam ini, adalah ikatan yang longgor dan tidak sendat. Kerana, ikatan semacam ini adalah bersifat sementara. Sekiranya, ada peluang ganjaran upah yang lebih lumayan ditawarkan. Tidak mustahil firma PMC mengkhianati pihak yang mula-mula mengupahnya.

Atau, sekiranya ada ancaman yang mengugat keuntungan firma PMC, kemungkinan besar firma PMC akan melarikan diri. Benarkah mereka sedia mengorbankan nyawa mereka untuk agenda majikan mereka. Semestinya mereka amat sayang akan nyawa mereka dan mereka (orang kafir) memang terkenal sebagai insan yang takutkan mati. Mereka akan berjuang hanya separuh hati. Kalau tidak percaya, kita lihat orang Gurkha yang hidup di wilayah ini. Mereka juga kita sebutan tentera upahan
British.wasalam

Sunday, October 11, 2009

Logistik itu milik kaum muslimin.

Logistik itu milik kaum muslimin.


Perkataan logistik amat jarang sekali kedengaran oleh orang awam yang berminat terhadap kegiatan ketenteraan atau para strategis peperangan. Malahan ia kedengaran begitu janggal sekali bagi setengah pihak terutama yang meletakkan kemenangan sesuatu pasukan tentera dalam medan peperangan. Ini ditambah pula kerana anggota kor logistik lazimnya tidak terlibat secara langsung atau dikaitkan dengan pertempuran di garis hadapan. Umum, kerap memandang mereka sebagai tentera kelas ke-2 yang tidak terlibat dalam unit tempur, sebaliknya mempunyai tugas-tugas lain seperti memandu trek bekalan,menyediakan makanan, membina khemah dan sebagainya.

Apakah logistik?
Logistik adalah salah satu cabang ilmu sains yang melibatkan perancang dan pelaksanaan gerakan serta senggaraan sesuatu angkatan bersenjata yang membolehkan angkatan tersebut berfungsi dengan jayanya dan mencapai objektif yang telah disasarkan. Dengan makna yang lebih mudah, logistik adalah bidang ilmu yang akan membolehkan satu pasukan tentera dibekalkan dengan kesemua peralatan dan perkhidmatan bagi membolehkan ia beroperasi dengan lancar

Bidang ini juga bukanlah satu bidang yang baru, malah ia telah dipraktikkan sejak beribu-ribu tahun yang lampau. Ia mencakupi pasukan tentera yang ingin memperluaskan wilayah penguasaannya mahupun mempertahankan wilayahnya. Sebaliknya adalah tidak keterlaluan jika dikatakan sebahagian besar dari tentera yang melakukan penaklukkan, pembebasan atau penjajahan di luar dari wilayah mereka akan kalah akibat kekurangan bekalan atau talian logistik mereka berjaya diputuskan oleh musuh.

Bukti kepentingan logistik.
Beberapa contoh yang dapat dibuktikan bahawa kepentingan logistik dalam arena pertempuran. Dalam peperangan Badar , Hubab bin Mundzir seorang sahabat Rasullulah SAW yang memahami kepentingan logistik. Apabila Hubab bin Mundzir hendak menolak pandangan Rasulullah terlebih dahulu beliau menanyakan :”Apakah ini merupakan pendapat, wahyu atau strategi wahai Rasulullah?” “Ini adalah Strategi dan pendapatku” Jawab Rasulullah. Barulah Hubab menyuarakan pendapatnya tentang menempatkan kem-kem (khemah) pertahanan tentera Islam melepasi telaga air. Ini kerana pihak musuh tidak akan menemui telaga air untuk bekalan minumannya. Sebaliknya tentera Islam mendapat manfaat dari telaga air tersebut. Pendapat Hubab disambut baik oleh Rasulullah dan segera Baginda melaksanakan.


Contoh ke-2, kempen peperangan salib,Raja Richard telah mengerakkan angkatan tenteranya untuk menawan Baitul Muqaddis. Ia telah memerhatikan pengalaman serangan tentera salib yang gagal sebelumnya. Panglima perang salib yang mengabaikan fakta bekalan logistik. Bala tentera bergerak dan mengambil bekalan mengikut kesempatan atau paksa dari tuan-tuan tanah dalam perjalanan ke medan tempur. Ini menyebabkan ada bala tentera yang bubar atau musnah bukan kerana pertempuran tetapi akibat kebuluran sebelum sempat ke medan tempur. Raja Richard telah merancang agar bekalan logistik dikumpulkan ditempat tertentu dan kapal-kapal disediakan bagi menghantar bekalan bagi menghantar bekalan tersebut kepada pasukannya yang bergerak menyusuri pantai menuju ke Baitul Maqaddis. Namun, Sallahuuddin Al Ayubbi berjaya mengalahkan pasukan tentera salib yang menyusuri pantai tersebut. Keadaan terdesak ini, Raja Richard terpaksa meninggalkan kawasan pantai dan memasuki kawasan pendalaman. Malang bagi mereka, Sallauddin Al Ayubi juga seorang panglima perang yang memahami kepentingan logistik. Beliau telah meracuni kesemua telaga menyebabkan air tidak boleh diminum oleh manusia dan haiwan. Malahan beliau juga memusnahkan tumbuhan yang boleh dimakan sepanjang perjalanan tentera salib ke Baitul Muqaddis. Keadaan ini menyebabkan Raja Richard sedar bahawa jika beliau meneruskan pengepungan Baitul Muqaddis, angkatan tenteranya akan menghadapi bahana kebuluran dan mudah dikalahkan oleh tentera Islam. Akhirnya beliau terpaksa mengadakan perjanjian damai dengan Sallahuddin.

Kepentingan Logistik bagi Islam
Contoh diatas menunjukkan betapa pentingnya logistik dalam medam peperangan. Perlu diingatkan, bahawa negeri kaum muslimin yang memiliki logistik yang ideal perlu dipratikkan. Bagi membendung keganasan dan kezaliman tentera Amerika menakluki Iraq dan Ahfganistan. Kerana negeri kaum muslimin memiliki minyak dan bahanapi. Minyak dan Bahanapi adalah sumber yang mengerakkan kesemua jentera peperangan. Tentera moden kini amat memerlukan sumber tersebut. Apabila sumber logiktik itu disekat, manakan mungkin pihak tentera yang zalim tersebut meneruskan peperangan. Bekalan mereka terputus dari Negara pelancar serangan. Faktor ke-2, wilayah perjalanan laut kebanyakkan di kuasai oleh negeri kaum muslimin. Selat Melaka dan selat Suez adalah kawasan genting yang perlu disekat kemaraan tentera yang zalim tersebut. Dengan itu, kemaraan musuh Islam akan menjadi sukar dan perjalanan mereka memakan masa yang lama.

Kesimpulannya, Islam dan kaum muslimin ada protensi besar untuk memenangi peperangan moden ini. Cuma pemimpin yang sedia ada kini hanya menjadi boneka musuh Islam dan mereka sentiasa tunduk patuh segala arahan oleh musuh Islam. wasalam

Friday, October 9, 2009

Ia hanya buih...

Penduduk Islam dunia kini 1.57b

NEW JERSEY 8 Okt. – Penduduk Islam di dunia kini berjumlah 1.57 bilion, nisbah satu kepada empat orang penduduk dunia, menurut satu
laporan komprehensif, semalam.
Laporan oleh Forum Pew Agama dan Kehidupan Awam itu menyediakan
satu angka tepat yang sebelum ini jumlahnya hanya dianggarkan.
Projek yang mengambil masa selama tiga tahun itu turut mendedahkan kenyataan-kenyataan yang mungkin mengejutkan. Sebagai contoh, Jerman mempunyai lebih ramai penduduk Islam berbanding Lebanon; China mempunyai lebih ramai penduduk Islam daripada Syria dan Rusia pula mempunyai lebih ramai penduduk Islam berbanding Jordan dan Libya.“Andaian yang menyatakan bahawa Islam adalah Arab dan Arab adalah Islam, ternyata tidak benar dengan adanya laporan ini,” kata Amaney Jamal, penolong profesor politik di Universiti Princeton yang mengkaji semula salinan awal laporan itu.
Pegawai-pegawai Pew menganggap laporan tersebut adalah yang paling lengkap dalam kategorinya dan meletakkan agama Islam sebagai agamakedua terbesar di dunia selepas Kristian, yang dianggarkan mempunyai antara 2.1 bilion hingga 2.2 bilion penganut.Laporan itu turut mendapatkan pecahan antara pengikut mazhab Sunni dengan Syiah tetapi kesulitan timbul kerana tidak banyak negara membuatpecahan seumpamanya, kata penyelidik kanan projek, Brian Grim. Maka, bilangan pengikut Syiah tidak dianggap khusus dengan laporan menganggarkan Syiah mewakili antara 10 dan 13 peratus daripada keseluruhan umat Islam di dunia, yang sejajar atau sedikit rendah berbanding kajian-kajian lain.

Sebanyak 80 peratus pengikut Syiah tinggal di empat negara iaitu Iran, Pakistan, India dan Iraq. Laporan turut mendedahkan bahawa meskipun nadi Islam terletak di Asia Barat, bilangan terbesar umat Islam adalah di Asia iaitu meliputilebih 60 peratus. Asia Barat dan Afrika Utara hanya mewakili kira-kira 20 peratus umat Islam, 15 peratus di Afrika Sub-Saharan, 2.4 peratus di Eropah dan 0.3 peratus di Amerika Syarikat.
Seramai 317 juta penduduk Islam atau satu per lima daripada jumlah keseluruhan penduduk Islam pula tinggal di negara yang penduduknya bukan majoriti Islam. Sebanyak 10 negara telah disenarai mempunyai penduduk dua per tiga beragama Islam iaitu Indonesia, Pakistan, India, Bangladesh, Iran, Turki, Mesir, Algeria, Maghribi dan Nigeria. – AP

----

Biarpun berbilion-bilion umat Islam sekalipun,
kita masih seperti buih di lautan.....




Dunia Islam kian tercabar; dicabar dan dihina oleh musuh-musuh Islam.
Umat Islam tidak dapat berbuat apa-apa melihat saudara seagamanya ditindas.
Hal ini sudah dapat diramal oleh Nabi Muhammad saw sejak dulu lagi,
dalam hadithnya:

"Umat lain akan meratah kamu dengan rakus sebagaimana anjing-anjing
yang mengelilingi hidangan makanan. Sahabat bertanya adakah kerana
bilangan umat Islam yang sedikit? Baginda menjawab Tidak, bahkan jumlah
kamu masa itu banyak sebagaimana banyaknya buih di permukaan air banjir.
Allah mengikis perasaan gerun di dalam hati musuh terhadap kamu dan Allah mencampakkan dalam hati kamu ‘al-wahan’. Sahabat bertanya apa
dia wahan itu ya Rasulullah. Jawab baginda ‘cintakan dunia dan bencikan akhirat."

Wednesday, October 7, 2009