Wednesday, April 11, 2012

Khaulah Binti Tsa’labah (Wanita Yang Aduannya Didengar Allah Dari Langit ketujuh)

Khaulah Binti Tsa’labah
(Wanita Yang Aduannya Didengar Allah Dari Langit Ketujuh)




Khaulah Binti Tsa’labah (Wanita Yang Aduannya Didengar Allah Dari Langit ketujuh)

Beliau adalah Khaulah binti Tsa`labah bin Ashram bin Fahar bin Tsa`labah Ghanam bin ‘Auf. Beliau tumbuh sebagai wanita yang fasih dan pandai. Beliau dinikahi oleh Aus bin Shamit bin Qais, saudara dari Ubadah bin Shamit r.a yang mana beliau menyertai perang Badar dan perang Uhud dan mengikuti seluruh perperangan yang disertai Rasulullah saw. Dengan Aus inilah beliau melahirkan anak lelaki yang bernama Rabi`.
Pada suatu hari, Khaulah binti Tsa`labah melihat suaminya Aus bin Shamit di dalam keadaan bermasalah yang membuat Aus marah, dia berkata, “Bagiku engkau ini seperti punggung ibuku.” Kemudian Aus keluar setelah menyebutkan perkataan tersebut dan duduk bersama orang-orang beberapa lama lalu dia masuk dan ingin melakukan hubungan seksual bersama isterinya, Khaulah. Akan tetapi, oleh kerana kesedaran hati dan kehalusan perasaan, maka Khaulah menolak untuk bersama suaminya sehingga hingga jelas hukum Allah terhadap kejadian yang baru pertama kali terjadi di dalam sejarah Islam. Khaulah berkata, “Tidak…jangan! Demi yang jiwa Khaulah berada di tangan-Nya, engkau tidak boleh menjamahku kerana engkau telah mengatakan sesuatu yang telah engkau ucapkankan terhadapku sehingga Allah dan Rasul-Nya lah yang memutuskan hukum tentang peristiwa yang menimpa kita.”
Kemudian Khaulah keluar menemui Rasulullah saw, lalu dia duduk di hadapan beliau dan menceritakan peristiwa yang menimpa di antara dirinya dan suaminya. Khaulah berkeinginan untuk meminta fatwa dan berdialog dengan nabi tentang urusan tersebut. Rasulullah saw bersabda, “Kami belum pernah mendapatkan perintah berkenaan urusanmu tersebut… aku tidak melihat melainkan engkau sudah haram baginya.”
Wanita mukminah ini mengulangi perkatannya dan menjelaskan kepada Rasulullah saw apa yang akan menimpa dirinya dan anaknya jika dia wajib bercerai dengan suaminya, namun rasulullah saw tetap menjawab, “Aku tidak melihat melainkan engkau telah haram baginya”.

Sesudah itu wanita mukminah ini senantiasa mengangkat kedua tangannya ke langit sedangkan di hatinya tersimpan kesedihan dan kesusahan. Kedua matanya asyik menitiskan air mata dan semacam ada penyesalan, maka beliau menghadap kepada Yang tidak akan rugi sesiapapun yang berdoa kepada-Nya. Beliau berdo’a, “Ya Allah sesungguhnya aku mengadu kepada-Mu tentang peristiwa yang menimpa diriku”.
Alangkah bagusnya seorang wanita mukminah seperti Khaulah, beliau berdiri di hadapan Rasulullah saw dan berdialog untuk meminta fatwa, adapun istighatsah (meminta pertolongan) dan mengadu tidak ditujukan melainkan kepada Allah Ta`ala. Ini adalah bukti kejernihan iman dan tauhidnya yang telah dipelajari oleh para sahabat daripada Rasulullah saw.

Tiada henti-hentinya wanita ini berdo`a sehingga suatu ketika Rasulullah saw pengsan sebagaimana kebiasaannya beliau akan pengsan tatkala menerima wahyu. Kemudian setelah Rasulullah saw sedar kembali, beliau bersabda, “Wahai Khaulah, sungguh Allah telah menurunkan al-Qur`an tentang dirimu dan suamimu kemudian beliau membaca firman-Nya (ertinya),

1. Sesungguhnya Allah telah mendengar (dan memperkenan) aduan perempuan Yang bersoal jawab denganmu (Wahai Muhammad) mengenai suaminya, sambil ia berdoa merayu kepada Allah (mengenai perkara Yang menyusahkannya), sedang Allah sedia mendengar perbincangan kamu berdua. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar, lagi Maha Melihat.
2. Orang-orang Yang “ziharkan” isterinya dari kalangan kamu (adalah orang-orang Yang bersalah, kerana) isteri-isteri mereka bukanlah ibu-ibu mereka. ibu-ibu mereka tidak lain hanyalah perempuan-perempuan Yang melahirkan mereka. dan Sesungguhnya mereka (dengan melakukan Yang demikian) memperkatakan suatu perkara Yang mungkar dan dusta. dan (ingatlah), Sesungguhnya Allah Maha Pemaaf, lagi Maha Pengampun.
3. Dan orang-orang Yang “ziharkan” isterinya, kemudian mereka berbalik dari apa Yang mereka ucapkan (bahawa isterinya itu haram kepadaNya), maka hendaklah (suami itu) memerdekakan seorang hamba sebelum mereka berdua (suami isteri) bercampur. Dengan hukum Yang demikian, kamu diberi pengajaran (supaya jangan mendekati perkara Yang mungkar itu). dan (ingatlah), Allah Maha mendalam pengetahuannya akan apa Yang kamu lakukan.
4. Kemudian, sesiapa Yang tidak dapat (memerdekakan hamba), maka hendaklah ia berpuasa dua bulan berturut-turut sebelum mereka (suami isteri) itu bercampur. akhirnya sesiapa Yang tidak sanggup berpuasa, maka hendaklah ia memberi makan enam puluh orang miskin. ditetapkan hukum itu untuk membuktikan iman kamu kepada Allah dan RasulNya (dengan mematuhi perintahNya serta menjauhi adat Jahiliyah). dan itulah batas-batas hukum Allah; dan bagi orang-orang Yang kafir disediakan azab seksa Yang tidak terperi sakitnya. (al-Mujadalah:1-4)

Kemudian Rasulullah saw menjelaskan kepada Khaulah tentang kafarat (tebusan)Zhihar:
Nabi : Perintahkan kepadanya (suami Khansa`) untuk memerdekan seorang hamba.

Khaulah : Ya Rasulullah dia tidak memiliki seorang hamba yang boleh dia bebaskan.
Nabi : Jika demikian perintahkan kepadanya untuk puasa dua bulan berturut-turut
Khaulah : Demi Allah dia adalah lelaki yang tidak mampu melakukan puasa.
Nabi : Perintahkan kepadanya memberi makan dari kurma sebanyak 60 orang miskin
Khaulah : Demi Allah ya Rasulullah dia tidak memilikinya.
Nabi : Aku bantu dengan separuhnya
Khaulah : Aku bantu separuhnya yang lain wahai Rasulullah.
Nabi : Engkau benar dan baik maka pergilah dan sedekahkanlah kurma itu sebagai kafarat baginya, kemudian bergaulah dengan anak pakcikmu itu secara baik.” Maka Khaulah pun melaksanakannya.

Inilah kisah seorang wanita yang mengajukan gugatan kepada pemimpin anak Adam a.s yang mengandungi banyak pelajaran di dalamnya dan menunjukkan ketinggian wanita beriman dan keberanian mereka bagi mendapatkan hak mereka.

Ummul mukminin Aisyah ra berkata tentang hal ini, “Segala puji bagi Allah yang Maha luas pendengaran-Nya terhadap semua suara, telah datang seorang wanita yang mengajukan soalan kepada Rasulullah saw, dia berbincang-bincang dengan Rasulullah saw sementara aku berada di samping rumah dan tidak mendengar apa yang dia katakan, maka kemudian Allah Azza wa Jalla menurunkan ayat, “Sesungguhnya Allah telah mendengar (dan memperkenan) aduan perempuan Yang bersoal jawab denganmu (Wahai Muhammad)…” (Al-Mujadalah: 1)


Khaulah berani menasihati Khalifah Umar


Inilah wanita mukminah yang dididik oleh Islam yang menghentikan Khalifah Umar bin Khaththab r.a saat berjalan untuk memberikan nasihat kepadanya. Beliau berkata, “Wahai Umar! aku telah mengenalimu sejak namamu dahulu masih Umair (Umar kecil) tatkala engkau berada di pasar Ukazh engkau mengembala kambing dengan tongkatmu, kemudian berlalulah hari demi hari sehingga memiliki nama Amirul Mukminin, maka bertakwalah kepada Allah perihal rakyatmu, ketahuilah barangsiapa yang takut akan seksa Allah maka yang jauh akan menjadi dekat dengannya dan barangsiapa yang takut mati maka dia akan takut kehilangan dan barangsiapa yang yakin akan adanya hisab maka dia takut terhadap Adzab Allah.” Beliau katakan hal itu sementara Umar Amirul Mukminin berdiri sambil menundukkan kepalanya dan mendengar perkataannya.

Akan tetapi al-Jarud al-Abdi yang menyertai Umar bin Khatthab tidak tahan lalu berkata kepada Khaulah, “Engkau telah bercakap banyak kepada Amirul Mukminin wahai wanita.!” Umar kemudian menegurnya, “Biarkan dia…tahukah kamu siapakah dia? Beliau adalah Khaulah yang Allah mendengarkan perkataannya dari langit yang ketujuh, maka Umar lebih berhak untuk mendengarkan perkataannya.”

Dalam riwayat lain Umar bin Khaththab berkata, “Demi Allah seandainya beliau tidak menyudahi nasihatnya kepadaku sehingga malam hari maka aku tidak akan menyudahinya sehingga beliau selesaikan apa yang dia kehendaki, kecuali jika telah masuk waktu shalat, maka aku akan mengerjakan shalat kemudian kembali mendengarkannya sehingga selesai keperluannya.”

(SUMBER: buku Mengenal Shahabiah Nabi SAW., karya Mahmud Mahdi al-Istanbuly dan Musthafa Abu an-Nashar asy-Syalaby, h.242-246, penerbit AT-TIBYAN)

Monday, April 2, 2012

khaulah Al Aswar

Duhai engkau sang pejuang

Laksana mawar di tengah ilalang

Amarah dan kesedihan yang mendalam

Telah mengobarkan semangatmu



Kegesitanmu laksana pejuang sejati

Sepak terjangmu menyisakan kekaguman

Berbanggalah ibu yang melahirkanmu

Menjadi seorang wanita mujahid



Dikisahkan ketika Khalid bin Al-Walid mendekati medan perang dalam salah satu pertemumpuran di Ajnadin menghadapi bangsa Rowami dalam episode penaklukkan Damaskus, tiba-tiba ia melihat seorang prajurit penunggang kuda melesat melewatinya dari belakang dan berkuda menuju pasukan Romawi. Sebelum Khalid sempat menahannya, ia telah menghilang, Bertubuh langsing dan berpakaian hitam, penunggang kuda itu mengenakan pelindung di dadanya, bersenjatakan pedang dan tombak. Khalid melihat ia mengenakan sorban hijau dan selendang yang menutupi wajahnya sebagai cadar dan hanya matanya saja yang terlihat. Khalid tiba di medan perang bersamaan dia melihat penunggang kuda itu melemparkan dirinya kedalam pasukan Romawi dengan penuh kemarahan yang membuat semua yang hadir mengira bahwa ia dan kudanya gila. Rafi – pemimpin pasukan yang waktu itu menggantikan Dhirar yang ditawan oleh tentara Romawi - melihatnya sebelum melihat kedatangan Khalid dan berkata, ”Dia menyerang seperti Khalid, tetapi jelas dia bukan Khalid.” Kemudian Khalid bergabung dengan Rafi.



Khalid langsung menggambungkan kelompok Rafi dan pasukan berkuda yang dibawanya dan menyebarkannya dalam kombinasi kekuatan untuk berperang. Sementara itu penunggang bertopeng menunjukkan aksi berkuda dan penyerangan dengan tombaknya yang mendebarkan kaum Muslimin. Dia terus maju menyerang barisan depan pasukan Romawi dan membunuh seorang prajurit, lalu dia berkuda lagi kebagian depan yang lain dan menyerang prajurit di barisan depan, dan seterusnya. Beberapa orang prajurit Romawi maju untuk menghadangnya namun berhasil dijatuhkan dengan permainan tombaknya yang dashsyat. Kagum terhadap pemandangan yang menakjubkan tersebut, pasukan Muslimin masih belum dapat melihat siapa gerangan pejuang itu, kecuali bahwa dia adalah postur seorang anak muda dan sepasang mata yang tajam bercahaya di atas cadarnya. Sang penunggang kuda tampaknya hendak bunuh diri karena dengan pakaian dan tombak yang berlumuran darah dia kembali menyerang prajurit Romawi. Keberanian sang pejuang memberikan keberanian baru bagi kelompok Rafi (yang semua hampir terkalahkan sebelum kedatangan pasukan Khalid bin al-Walid), yang melupakan kelelahan mereka dan menyerbu ke medan perang dengan semangat baru yang tinggi ketika Khalid memerintahkan untuk menyerang.



Penunggang bercadar, yang kini diikuti oleh prajurit lainnya, melanjutkan pertempurannya dengan prajurit Romawi ketika seluruh pasukan kaum Muslimin menyerbu. Segera setelah serbuan umum itu, Khalid mendekat kepada sang penunggang dan bertanya, ”Wahai pejuang, tunjukkanlah wajahmu!” Sepasang mata hitam berkilat menatap Khalid sebelum berbalik dan kembali menyerang tentara Romawi. Kemudian beberapa orang tentara Khalid menyusulnya dan berkata kepadanya. ”Wahai pejuang yang mulia, komandanmu memanggilmu dan engkau pergi darinya! Tunjukkan kepada kami wajahmu dan sebutkan namamu agar engkau dapat dihormat selayaknyai.” Sang penunggang kuda kembali berbalik pergi seolah dengan sengaja merahasiakan identitas dirinya.



Ketika sang penunggang kuda kembali dari serangannya, dia melewati Khalid, yang menyuruhnya dengan tegas untuk berhenti. Dia menarik kudanya berhenti, Khalid melanjutkan: ”Engkau telah berbuat banyak yang memenuhi hati kami dengan kekaguman. Siapakah anda?”



Khalid hampir terjatuh dari kudanya ketika dia mendengarkan jawaban dari penunggang kuda bercadar, karena yang didengarnya adalah suara seorang gadis. ”Wahai komandan, bukannya aku enggan menjawab pertanyaan anda, hanya saja aku merasa malu, sebab anda seorang pemimpin yang agung, sedangkan aku adalah gadis pingitan. Sesungguhnya tiada lain yang mendorongku untuk melakukan hal seperti itu melainkan karena hatiku terbakar dan aku sangat sedih.



Khalid dibuat kagum kepada orang tua itu, Al-Azwar, yang menjadi ayah pejaung-pejuang pemberani, laki-laki dan perempuan. ”Kalau begitu bergabunglah bersama kami.”



Itulah dia, Khaulah binti Al-Azwar, seorang gadis pemberani, yang membuat kagum pasukan Muslimin dengan sepak terjangnya menyerang tentara Romawi. Kesedihan dan kemarahan akan berita ditawannya saudaranya tercinta, Dhirar bin al-Azwar, membuatnya tampil ke medan perang sebagai pejuang, dan tidak lagi berada di barisan belakang sebagai perawat prajurit yang terluka dan mengurus perbekalan sebagaimana yang dilakukan sebelumnya bersama para wanita yang ikut dalam peperangan.

Thursday, October 14, 2010

Kebangkitan islam yang dijanjikan

Allâhu akbar!
terjemahnya: "Sesungguhnya Allah akan mengutus kepada ummat ini seorang mujaddid terhadap agamanya setiap 100 tahun." (al-Albani, sahih Sunan Abu Daud, # 4291).

Oleh itu, sejak kejatuhan khilafah pada tahun 1924. Dunia Islam sepi dan merana, gersang dengan cerita-cerita kegemilangannya. Hanya cerita-cerita duka sahaja. Namun batas waktu tersebut akan berakhir tidak lama lagi. Sehingga perkara di dunia ini pasti ada tempoh had masanya. Bak seperti pusingan roda berputar. Hanya sekitar lebih sepuluh tahun lagi penderitaan ini akan berakhir. Sekiranya kita ambil kira sejak tahun kejatuhan Islam dicampurkan dengan seratus tahun lagi kita dapat menemui jawapannya, iaitu pada tahun 2024. Pada era inilah,Era kebangkitan Islam yang menutup sejarah manusia. Manusia yang ditunggukan tentulah Imam Mahdi.

Jika tuan-tuan berfikiran yang realistik. Sekiranya Imam Mahdi memimpin umat Islam kini menggunakan sistem apa? Adakah beliau menggunapakai sistem demokrasi? sistem ekonomi kapitalisme yang bersifat menekan? Masih taatsetia dengan peraturan PBB?

Jawapannya mudah. Sudah tentu beliau menggunapakai dengan ditinggalkan oleh Rasulullah SAW. Beliau menggunapakai sistem pemerintahan Islam iaitu Sistem Khilafah, urusan ekonominya tentulah Sistem Ekonomi Islam dan tiada terikat dengan peraturan PBB. Sejajar dengan hadis Rasulullah SAW,"Akan ada khilafah yang mengikut jejak kenabian".

Oleh yang demikian, wajarkah kita mengikut sistem apa yang tersedia ada.Sistem demokrasi, Sistem Ekonomi kapitalis, PBB kita dah boleh buang kedalam bakul sampah. Walaupun, kita cakap bahawa kita hendak jadi pengikut Imam Mahdi, tapi kalau kita masih berpegang dengan peradaban Barat, sebenarnya kita menjadi penentang beliau, Allah dan Rasul (Secara tak langsung).

Hanya jemaah Islam yang ada sekarang ini cukup-cukup bersedia menerima kehadiran Imam Mahdi. Perjuangan mereka selari dengan apa yang hendak diamalkan oleh Imam Mahdi. Jemaah Islam ini menyediakan jalan kebangkitan Islam agar mudah dilalui pemimpin besar yang dijanjikan itu. Jemaah Islam yang sering melaungkan Khilafah disana-sini. Jemaah tersebut dipanggil Hizbut Tahrir.

Monday, May 17, 2010

Seruan bantahan Hizbut tahrir Malaysia tentang judi



Hizbut tahrir Malaysia telah mengadakan seruan bantahan kepada kerajaan Malaysia kerana meluluskan lesen perjudian bola sepak.

komentar penulis :Sesungguhnya judi itu haram disisi Allah SWT. Hukum manusia yang menghalalkannya dengan hanya memberikan lesen akan menempatkan mereka ke dalam neraka jahanam. Mereka yang meluluskannya bahkan mereka yang iyakan di dalam hati sekalipun walaupun tidak melibatkan diri secara langsung dalam arena perjudian mendapat ganjaran yang setimpal apa yang mereka lakukan.

Tuesday, April 6, 2010

Imam Hanafi –Pendebat Kebenaran




Imam Hanafi –Pendebat Kebenaran

Buku terbaru saya baca. Imam Hanafi dilahirkan lebih dahulu daripada imam-imam mazhab yang lain (Imam Miliki,Imam Hanbal dan Imam Syafie) Nama sebenarnya An Nukman bin Thabit lahir pada 80 Hijrah. Mendapat gelaran Abu Hanifah kerana beliau mendapat seorang anak bernama Hanifah. Ada juga mengatakan beliau suka membawa dakwat ke mana sahaja beliau pergi, digelar Hanifah bererti dakwat dalam bahasa Parsi.

Sejak kelahiran beliau, ibunya sangat berharap anaknya menjadi seorang ulama. Pada usia remajanya beliau cenderung dalam bidang perniagaan namun ibunya berusaha menarik minat beliau ke arah bidang keilmuan agama. Akhirnya beliau ke arah bidang tersebut. Beliau belajar dengan 200 ulama termasuklah beberapa sahabat Nabi SAW seperti Abdullah bin Abbas bin Abdul Muttalib dan Abdullah bin Mas’ud. Namun begitu, dalam masa yang sama beliau tidak meninggalkan bidang perniagaan. Kehidupannya senang/kaya namun cara hidupnya sederhana. Beliau banyak membantu orang ramai yang dalam kesusahan, menghalalkan hutang (10 ribu dirham) seorang sahabatnya dan pendek kata beliau juga seorang pemurah dan dermawan.

Diantara kenangan manisnya, Ketika beliau masih berguru dengan Imam Hammad di Madinah. Datanglah utusan Khalifah menjemput Imam Hammad ke Baghdad untuk berdebat dengan seorang cerdik pandai (Dahri) dari kerajaan Rom. Memandang semua ulama di Baghdad tidak mampu menjawab soalan-soalan dari Dahri tentang kewujudan tuhan, maka Imam Hammad membawa sekali imam Hanafi sebagai pengiringnya. Tiba di sana, Imam Hammad terasa gelisah mendengar khabar soalan dari Dahri yang memeningkan kepala. Akhirnya, Imam Abu Hanifah tampil menawarkan diri untuk menjawab soalan-soalan Dahri.

Dipendekkan cerita, semua soalan tersebut dengan mudah dijawab oleh Imam Abu Hanifah walaupun ketika beliau masih muda. Pulanglah Dahri ke Rom dengan malunya. Di dalam buku novel tersebut, ada beberapa lagi siri pendebatan diantara beberapa ulama-ulama.

Oleh kerana beliau hidup dalam peralihan dua zaman pemerintahan Islam iaitu zaman pemerintahan Bani Umaiyyah dan Bani Abbasiah. Bahananya terpercik ke atas diri beliau. Disebabkan pengaruh beliau amat besar kepada umat (di Kufah) Khalifah Marwan (Bani Umaiyyah) ingin melantik beliau sebagai Kadi ataupun ketua perbendaraan Kufah. Beliau menolak jawatan tersebut dengan baik, namun beliau dituduh seorang yang menyokong kebangkitan Bani Abbasiyah. Beliau menolak jawatan tersebut kerana tidak mahu bersepakat dengan orang-orang zalim. Disebabkan itulah, beliau dipenjarakan. Selama 2 minggu, namun dibebaskan kerana khalifah takut pengikut Imam Abu Hanifah dan penduduk Kufah semakin menjadi pemberontakannya.

Pada masa Khalifah Abu Jaafar al Mansur (Bani Abbasiyyah) berkuasa, ketika itu dia masih mencari pengaruh dalam umat. Dia nampak imam Hanafi mampu membawa pengaruh umat kepada Khalifah Abu Jaafar sekiranya beliau bekerja dengannya. Sekali lagi, Imam Abu Hanifah ditawarkan jawatan kadi/ ketua perbendaraan Negara. Namun beliau tetap tolak jawatan tersebut dengan alasan yang sama. Walaupun, beliau dihadiahkan dan digajikan yang tinggi, beliau tetap menolaknya. Khalifah Abu Jaafar mengarahkan Imam Abu Hanifah dipenjarakan. Di dalam penjara, beliau berkali-kali diajak menjawat jawatan tersebut, namun beliau tetap menolaknya. Sehinggalah beliau disebat setiap hari. Khalifah Abu Jaafar memanggil ibunya menziarah dan memujuk anaknya(Imam Abu Hanifah) menerima jawatan tersebut. Ibunya datang ke penjara. Dengan perasaan kesalnya melihat keadaan Imam Abu Hanifah yang terseksa di dalam penjara. Berkata ibunya “Wahai anak bonda yang dikasihi. Suatu ketika dulu bonda berasa amat bangga dan gembira kerana kamu menjadi orang yang banyak ilmu dan disanjung tinggi. Tetapi sekarang bonda berasa amat berdukacita melihat keadaanmu, kerana itu lebih elok kamu buang sahaja dan lemparkan jauh-jauh yang kamu dapati kerana tidak ada manfaatnya. Apa yang kamu dapati sekarang adalah dikurung di dalam penjara, dipukul dengan cemeti setiap hari dan rantai yang membelit tubuhmu.”

Kata pula Imam Abu Hanifah “Wahai ibuku, anakanda bersyukur dengan apa yang Allah kurniakan. Sekiranya anakanda hendakkan kemewahan dunia, tentu anakanda dapatinya. Tetapi anakanda mengutamakan keredaan Allah sertamemelihara ilmu pengetahuan yang selama ini anakanda pelihara sekiranya menuju kemurkaan Allah”

“Anakku, cuba beritahu bonda mengapa anakanda menolak jawatan itu? Bukankah itu perintah khalifah” tanya ibu Imam Abu Hanifah.

“Ibu, khalifah sekarang bukan seperti khalifah Abu Bakar, Umar, Uthman dan Ali. Sekiranya mereka mencontohi khalifah Umar Abdul Aziz pun sudah cukup membuat anakanda mahu berkhidmat denganya. Tetapi khalifah sekarang ini berlaku zalim. Lihatlah apa yang baginda lakukan pada anakanda.Demi Allah, anakanda tidak akan bersubahat dengannya” jawab Imam Abu Hanifah.

Akhirnya, beliau mati diracun oleh Khalifah Abu Jaafar. Selepas beliau pergi untuk selama-lamanya, Khalifah Abu Jaafar berasa menyesal atas perbuatannya dan sering terbayang-bayang wajah Imam Abu Hanifah dalam ingatannya.

Ulasan yang hendak saya bahaskan, buku novel ini menceritakan gaya hidup seorang ulama yang terulung. Penulis banyak mengaitkan situasi politik/siasah pada ketika itu dan disalang-silangkan nasib-nasib orang-orang yang zalim seperti Gabenor Kufah, Al Hajjaj bin Yusof At-Thaqafi. Dia seorang yang bertanggungjawab menyerang Kaabah dan membunuh Abdullah bin Zubair. Akhir hayatnya, dia ditinggalkan oleh pengikutnya dan umat kerana penyakit yang misteri.

Satu fakta yang saya ingin ulaskan setelah membaca buku novel ini, tentang hadis pemuda dari khurasan. Hadisnya berbunyi begini,”Panji hitam akan muncul dari Khurasan. Tidak ada kekuatan yang mampu menahan kemaraan mereka hingga akhirnya sampai di Palestin,di tempat itulah mereka akan mengibarkan panjinya” (HR Tirmizi).

Penulis buku novel ini mengaitkan kebangkitan Bani Abbasiyah. Kerana Bani Umaiyyah menggunakan panji berwarna putih. Puak yang dikatakan pemberontak, menggunakan panji berwarna hitam. Punca kebangkitan Bani Abbasiyah bermula di Khurasan (khurasan juga dikenali sebagai tanah matahari terbit dalam bahasa Parsi dan kawasan timur) dan kawasannya sekarang ini melewati Afghanistan, Uzbekistan, Tajikistan,Pakistan dan Xinjing dan Yunan China.

Bagi saya, mungkin ya juga. Mungkin hadis pemuda dari khurasan telah berlaku. Tapi kenapa pulak hadis ini dikaitkan dengan kehadiran Imam Mahdi. Satu lagi persoalan yang kita nanti-nanti jawaban. Hanya Allah sahaja yang tahu.

Contoh hadisnya, Dari Ibnu Masud RA, katanya, ketika kami berada di sisi Rasullulah SAW, tiba-tiba datang sekumpulan anak muda dari kalangan Bani Hasyim. Apabila terlihat mereka, maka kedua-dua mata banginda SAW dilinangi air mata dan wajah baginda berubah. Aku pun bertanya, Mengapakah kami melihat pada wajah Tuan sesuatu yang tidak kami sukai? Baginda menjawab, Kami Ahlul Bait telah Allah pilih untuk kami akhirat lebih dari dunia. Kaum kerabatku akan menerima bencana dari penyingkiran selepasku kelak sehinggalah datang suatu kaum dari Timur yang membawa bersama-sama mereka Panji-panji Hitam. Mereka meminta kebaikan tetapi tidak diberikannya, maka mereka pun berjuang dan beroleh kejayaan lalu diberikanlah apa yang mereka minta itu tetapi mereka tidak menerima sehinggalan mereka menyerahkannya kepada seorang lelaki dari kaum kerabatku yang akan memenuhkan bumi ini dengan keadilan seperti halnya bumi ini dipenuhi dengan kedurjanaan sebelumnya. Sesiapa yang sempat menemuinya, maka datangilah mereka itu, walaupun terpaksa merangkak di atas salji. Sesungguhnya dia adalah al-Mahdi.
(Ibnu Majah)

Di sisi yang lain pula, gaya kehidupan Imam Abu Hanifah seperti gaya syabab Hizbut Tahrir. Sibuk cari ilmu. Menegakkan kebenaran hanya menggunakan lidah dan ancaman penjara yang sering menjadi igauan.Cuma, syabab Hizbut Tahrir tidaklah sebaris Imam Abu Hanifah.Yang saya hendak kemukakan hanya gaya hidupnya saja.

Sunday, April 4, 2010

Ulasan Novel Sejarah Islam

Ulasan Novel Sejarah Islam

Sejak dua menjak ini, saya suka pulak membaca buku novel sejarah Islam, penulisnya Abdul Latip Talib. Dia banyak memberi maklumat dan pengetahuan yang hampir saja kita tidak mengetahuinya. Apatah lagi, dengan pemikiran yang dididik oleh Hizbut Tahrir, iaitu pemikiran Islam yang tulen dapatlah saya memandu diri agar terus berusaha untuk menegakkan kebenaran Islam berserta hukumNya. Agar kita dapat melahirkan generasi yang baru sebanding dengan pahlawan Islam yang terdahulu.


Khalid Memburu Syahid

Novel ini menceritakan sejarah hidup beliau bermula sebelum memeluk Islam sehinggalah saat-saat akhir hayatnya. Beliau sempat melahirkan perasaan kesalnya tidak syahid di medan perang sebaliknya bak kata beliau, “seperti matinya seekor unta”. Namun, seorang sahabatnya, Abu Zanad menenangkan diri beliau,” Nabi Muhamad SAW mengurniakan kepada saudara gelaran Pahlawan Pedang Allah. Baginda juga mendoakan saudara menang dalam setiap peperangan. Disebabkan itulah saudara tidak boleh mati dibunuh oleh orang kafir. Saudara juga tidak boleh tewas dalam peperangan kerana doa Nabi Muhamad dimakbulkan Tuhan”. Bagi ulasan saya, banyak-banyak bab peperangan yang dilalui oleh Khalid. Saya tertarik dengan peristiwa panglima perang Rom, Gergorius memeluk Islam. Caranya amat unik sekali.



Abu Ubaidah –Penakluk Parsi
Novel ini menyentuh kisah hidup Abu Ubaidah sebelum memeluk Islam lagi sambil melintasi zaman Jahiliah menekan hidup orang muslim. Selama ini, saya tidak tahu pula, beliau mendapat gelaran “Penjaga Amanat Umat”, ini berdasarkan hadis Rasulullah SAW,”Setiap umat ada penjaga amanat bagi umatku adalah Abu Ubaidah Al Jarrah”. Menariknya novel sejarah ini, menceritakan babak pembebasan kota-kota Rom,di Damsyik, Fihl, Hims, Antakiah dan lain-lain lagi selepas peperangan Yarmuk. Cerita penaklukan kota-kota tersebut dikaitkan bantuan Khalid Al Walid. Cuma, saya hairan kenapa novel sejarah ini diberi tajuk “Penakluk Parsi” sedangkan hampir seluruh ceritanya hanya berkisar dengan kerajaan Rom sahaja?.



Salahudin Ayubi -Penakluk Jerusalem
Ramai dikalangan peminat sejarah Islam mengetahui kisah perang Salib. Namun, tanpa membaca buku novel sejarah ini,kita tak kenal siapakah Salahudin Ayubi yang sebenarnya. Bintang Islam ini tidak menyerlah pada usia remajanya. Sejak beliau berpindah ke Mesir, cahayanya terus bersinar-sinar. Rupa-rupanya, bukan mudah hendak menewaskan tentera salib ini, usaha beliau bermula dari dalam negeri kaum muslimin. Penyatuan kaum muslimin di Mesir adalah titik awal kebangkitannya. Penyingkiran pengaruh puak Syiah yang lalai dengan keindahan dunia adalah langkah awalnya. Namun, caranya bijak dan teratur tanpa disedari puak berkenaan. Setelah beliau berjaya menyatukan kaum muslimin di Mesir dan Syam, barulah beliau melancarkan serangan terhadap tentera Salib. Beliau meninggal dunia akibat demam panas ketika beliau pulang ke tanah kelahiran beliau, di Damsyik.



Sultan Muhamad Al Fateh -Penakluk Konstantinopel
Saya ucapkan syabas kepada penulis buku novel sejarah ini. Banyak pengetahuan yang saya timba disini. Semasa saya baca buku-buku novel ini, saya rasa hendak hidup pada zaman mereka (ketika zaman pemerintahan Islam –khilafah). Rindunya semakin menebal. Sultan Muhamad seorang pemuda (dilantik menjadi sultan -19tahun) yang berusaha gigih menakluki kota Konstantinopel atas dasar sebuah hadis Rasulullah SAW. Bahkan beliau dikhabarkan oleh ulama-ulama istana sebagai pemimpin yang berjaya menakluki kota tersebut, sejak ibu mengandungnya lagi. Rupa-rupanya, idea memindahkan kapal ke Tanduk Emas melalui jalan darat, bukanlah idea datang dari Sultan Muhamad, tapi dari ilham Illahi melalui mimpi. Kemudian beliau menanyakan hal tersebut kepada seorang ulama, Sheikh Shamsudin. Ulama tersebut menyuruh lakukan apa yang dimimpikan agar menjadi kenyataan. Usaha ini, berjalan lancar dengan adanya genjatan senjata (yang dipinta oleh Raja Rom) selama seminggu dengan menyediakan landasan untuk kapal dipindahkan. Dengan bantuan angin kencang yang bertiup dari laut ke darat dapatlah membantu tentera memindahkan kapal sebanyak 70 buah dan dilakukan hanya 1 malam,dengan sejauh 3 batu berserta mendaki bukit. Hebat kan!!


Tariq -Menang ataupun Syahid
Tindakan beliau membakar kapal seringkali menjadi kontradik. Sehinggalah beliau berjaya menakluki Andalusia masih ada orang menuntut gantirugi kerana membakar kapalnya. Namun, kesudahannya baik, orang tersebut akhirnya memeluk Islam. Kehebatan Tariq tidak perlu dipertikaikan kerana beliau sebaris nama pahlawan Islam yang berjasa besar dalam Islam. Imannya tinggi, dalam operasi beliau menakluki Portugal pun, (selepas menakluki Andalusia) beliau tidak tertarik dengan sambutan kedatangan istimewa oleh orang Portugal yang menyediakan perempuan, arak dan daging babi. Dengan harapan dapat membunuh Tariq dan tenteranya (10 ribu orang) secara mudah. Memandang beliau tidak layan semua itu, Portugal terpaksa tunduk kepada hukum Islam. Cuma, kisah Tariq dalam novel ini agak tergantung pada babak akhir hayatnya.

Tuesday, March 30, 2010

What HarakahDaily said about Hizbut tahrir methodology?




Malaysia's two faces of literal Islam
Dr Ahmad Farouk Musa

The Muslim world is not ideologically monolithic and embedded therein are various spectrum of perspectives ranging from one extreme to the other. The new millennium is witnessing a contest between the various ideological groups representing differing interpretations of the religion of Islam. Irrespective of the multitudes of ideologies within Islamism, the main similarity shared is the political and ethical discourse intended to disarm the discourse of their opponents.

Bobby Sayyid has argued in ‘A Fundamental Fear: Eurocentrism and the Emergence of Islamism’ that the central aim of Islamism is to restore Islam’s place as the central reference point for all social, cultural, economic and political life in Muslim society. In a time when Islam is portrayed to be out-of-date and out-of-touch leading to the current state of phlegmatism among Muslims, it creates an avenue for the Islamists to put forward a system that had been marginalised and abandoned, yet remained positive and uncontaminated by the evils of modernity. And aided by the forces of globalisation, the Islamists are now battling for the hearts and minds of the people within their constituency.

This article intends to discuss only two groups of Islamists within the multitude of Islamist movements in our country. Despite sharing one commonality between them, namely the literal approach in understanding Islam, their views toward politics and governance are in exact total contrast. And due to the simplicity in their approach and methodology, they attract quite significant followers especially among young university students who are still trapped in idealism.


Hizb-ut-Tahrir

Though generally Malaysia boasts a tradition of inclusive and moderate Islam with a significant member of Islamic scholars especially from the Pan-Malaysian Islamic Party (PAS) engaging themselves in a push for greater democracy, a vibrant civil society and respect for human rights.

There exist a rejectionist group known as Hizb-ut-Tahrir that considers democracy antithetical to Islam. This movement that promotes literal interpretation of Islam gains its strength from the young and naive university students. The main reason that makes Hizb-ut-Tahrir appealing to the young minds is the simplicity in its approach and methodology.

The main thrust of their manhaj or methodology is to promote establishment of the ‘Caliphate’. When the ‘Caliphate’ is established, then all other problems faced by the community at large will be solved.


Democracy


Hizb-ut-Tahrir believes that democracy is an infidel system or Nizam-u-kufr that was marketed in the Muslim country by the blasphemous West. Democracy is said to have nothing whatsoever to do with Islam. It contradicts the source of Islam, the ideology it emanates from, the foundation it is based on, and the ideas and system it has came up with.

Although the structure of organisation of Hizb-ut-Tahrir may not be clearly visible, and perhaps it is part of the manhaj to remain obscure and clandestine in nature; its radical rhetoric is appealing to the young and vibrant Muslim students that seek simple and uncomplicated solutions to the problems faced by the ummah.

The radicalisation of the tactics, approach and discourse of Hizb-ut-Tahrir in promoting the Islamic state agenda complete with Syari’ah laws and the establishment of a Caliphate is a shift towards a more exclusive and confrontational domain, especially when the discursive and political space for new movements was not there, being controlled by the more established Islamic party.

How Hizb-ut-Tahrir intends to achieve its agenda in a plural Malaysian society where Muslims form only a slight majority remains an enigma. But to the simple minds, such a question may not be considered of paramount importance, as much as whether Hizb-ut-Tahrir can help to deliver a new form of politics to Malaysia or whether the rise of Hizb-ut-Tahrir will mark a further degeneration of Malaysian politics.


Salafis

The rigid and two-dimensional interpretation of Islam is not the sole-property of Hizb-ut-Tahrir, but is shared in spirit by the Salafis, or derogatorily labelled as Wahhabis by the mainstream traditionalists. Adamant that the Qur’an and Hadith be read and understood literally and the world is understood in rigid black-and-white terms, they proposed for the replication of a community that existed during the seventh-century Madinah or the community of as-salafus-soleh (the pious predecessors) that existed during the first three-hundred years after the time of the Prophet.

While Hizb-ut-Tahrir propagates the establishment of the Caliphate as the ultimate solution, the salafis propose the replication of the community of as-salafus-soleh as its main thrust. This period according to the salafis is the Golden Age of Islam and should be remembered as a period of ‘pure Islam’.


Appealing simplicity

This simplicity, as the case of Hizb-ut-Tahrir, is appealing to the young Muslims especially those from Islamic background since many books especially in Arabic that propagate this idea are made available by the main sponsors, the ostentatious Saudi government.

It is interesting to note that ‘pure Islam’ is never defined and whatever this undefined pure Islamic society may look like is a shared vision based in a shared history. An assumption is made as if the community of as-salafus-soleh is a monolithic community and that there were no differences in opinions and approach; where in actual fact the community at that time were as diverse as we are in the twenty-first century.

But to the young and untrained minds, what was in the past, the history as envisioned by the salafi that became the model of his everyday life, will be the blueprints for future action. And in the salafi imagination then, the factor standing in the way of potential utopia is anything alien to their perceived Islam including modern system of governance.

In reconstructing the Golden Age of Islam, Salafism embarks on an imaginative project to create an intangible mythical past in its midst. In doing so, they invent what they do not know, improvise what they do but what no longer exists and demarcate what in the present fits into this imaginative landscape of ‘true Islam’.

The salafis were largely motivated by a desire not to let any practices deemed alien to the Islamic culture to interfere and possibly corrupting Muslim identity and unity. Similar to Hizb-ut-Tahrir, they perceived democracy as alien to Islam and advocated total rejection of any participation within a democratic process.


Link with ruling party

In tandem with many Saudi-based scholars, the salafis in Malaysia will blindly support the existing government, irrespective of whether the government is authoritarian or democratic. This is based on their false belief that it was the practice of as-salafus-soleh; and any acts of opposition against the ruling government, although through democratic means, are deemed as unIslamic.

Hence, it is not a surprise then to notice such an intimate association between the salafis and certain leaders of the ruling party in Malaysia. It is more revealing when some salafi leaders themselves were given spaces in the tightly controlled mainstream media.

To the ruling government, this is the most convenient marriage that would ensure their perpetual grip on power. The only factor that is preventing the salafis from assuming greater role within the government agencies reciprocally is the strong opposition by the mainstream traditionalists that pervade almost the entire government machineries.


Possible contenders?

We have seen the two differing faces of literal Islam albeit briefly, namely the anti-establishment Hizb-ut-Tahrir and the pro-government salafis.

Islamism as propagated by Hizb-ut-Tahrir is seen as a direct political challenge on the state. This is simply due to the fact that they wish to present themselves and their party as a viable alternative to the present order.

Islamism according to the salafis on the other hand, is based on the mythic presumption with regard to the manhaj of the pious predecessors that prevent any opposing acts against the ruling government, though both viewed the current prevailing system as alien to their perceived Islam.

The growing influence of literal Islam is yet to effect any change in equilibrium of political Islam in Malaysia, but unless their manhaj and modus operandi are fully understood, they remain as possible contenders in determining the political discourse in the near future.

From:

http://harakahdaily.net/en/index.php?option=com_content&view=article&id=250:malaysias-two-faces-of-literal-islam&catid=49:ahmad-farouk-musa&Itemid=94